Chaptered, Romance, School Life

Maid 90 Days // Chapter 7

MAID901[1]

Title // Maid 90 Days

Author // Redbaby

Main cast // Oh Sehun—Kim Seulgi—Park Daehyun—Choi Jinri—Kim Haerin

Genre // Romance—School Life

Prev. PrologPart 1Part 2aPart 2bPart 3—Part 4—Part 5-6

DON’T BE A SILENT READER!!!

Desahan nafas yang terengah-engah saling beradu di sebuah gang kecil. Sehun, Seulgi dan Haerin berhasil melarikan diri dari intaian penguntit itu. Ketiganya sedang berusaha mengatur nafas masing-masing setelah berlari hampir satu kilo, saat itu penguntit itu terus berlari mengejar mereka tapi pada akhirnya penguntit itu kehilangan jejak ketiganya saat sebuah mobil menghadangnya di perempatan jalan.

“Haerin-ssi, siapa orang itu? Dia bukan seseorang yang kau kenal, kan?” tanya Sehun setelah ia dapat kembali bernapas dengan baik.

Herin menoleh lalu berkata “Ah, iya. Jika kau artis, hal-hal seperti ini memang sering terjadi. Ini seperti semakin terjerat dengan penggemarmu dan itu membuatmu…pergi dan bahkan pindah sekolah…” jawab Haerin sambil tersenyum—tepatnya seyum yang di paksakan. Haerin menunduk setelah mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang berbisik, namun masih bisa di dengan oleh Sehun. Lelaki itu tertegun namun tidak berkomentar.

“Hei, kau akan pulang sekarang, kan?” seru Haerin cepat agar Sehun tidak bertanya lebih lagi. Lelaki itu mengangguk menjawab pertanyaan Haerin.

“Bisakah kau membawaku ke rumahmu untuk sementara? Aku takut bertemu dengannya lagi.” Pinta Haerin penuh harap. Ia tahu ini sangatlah memalukan baginya ketika ia meminta seseorang menampungnya pada orang yang baru saja ia kenal. Kenapa harus Sehun? Kenapa tidak Daehyun? Entahlah, otaknya sekarang tidak dapat bekerja dengan baik di saat seperti ini. Sehun akan menjawab ketika Seulgi tiba-tiba membuka suara. “Mau bagaimana lagi…” Sehun dan Haerin sontak menoleh dan mendapati Seulgi berdiri sambil berkacak pinggang.

“Jika memang begitu, tinggal saja di rumahku.”

“Apa?”

“Walaupun rumahku tidak sebesar rumahmu, tapi aku akan selalu membuatkanmu makanan lezat dan cukup gizi sehingga berat tubuhmu akan tetap terjaga, sepertinya kau akan menyukainya.”

“Makanan lezat?” sahut Haerin antusias. Jika di pikir-pikir selama ini ia hanya makan ramen dan snack juga permen coklat, jauh dari makanan sehat untuk di konsumsi setiap harinya.

Sehun menoleh dan menatap Haerin bingung. Gadis itu sangat mudah percaya dengan iming-iming yang Seulgi berikan. Sementara Seulgi tersenyum kecil, ia senang Haerin percaya dengan ucapannya. Sungguh gadis bodoh.

“Kalau sudah kau putuskan…datang saja ke tempatku?”

“Ha, kenapa? Tunggu sebentar, kenapa aku harus pergi ke tempatmu?”

“Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu. Tapi asal kau tahu, tempat Sehun sangat berbahaya, bahkan aku bisa dengan mudah menyelinap masuk.” Tentu saja itu tidak benar, karena apartemen Sehun sangatlah aman karena apartemen lelaki itu mendapat penjagaan yang sangat ketat namun sebaliknya dengan apartemen kecil miliknya. Setelah menawarkan tempat tinggal untuk Haerin, Seulgi menyampirkan tas ranselnya dan berbalik kemudian berlalu.

Di saat yang sama Haerin menoleh menatap Sehun untuk meminta klarifikasi atas ucapan Seulgi barusan. Namun di saat Sehun akan menjawab, Seulgi kembali menyela dan mengatakan “Baiklah itu bukan urusanku.” Ucapnya sambil berlalu.

“T-tunggu! Kim Seulgi!” dengan sangat terpaksa Haerin menerima tawaran Seulgi dan mengejar gadis itu untuk pulang bersamanya. Sebelum ia menjauh Haerin menengok sekilas ke arah Sehun. Lelaki itu mendesah sambil berkacak pinggang dengan wajah menunduk.

“Baiklah terserah saja.” Gumamnya.

***

Hari semakin sore dan langit sudah berwarna orange kecoklatan sebentar lagi malam menjelang. Haerin menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan keadaan apartemen berukuran kecil itu dengan wajah meremehkan. Gadis itu kini berada di ruang tengah, di lihatnya barang-barang yang tertata rapi di setiap sudut ruangan dan itu sangat berbeda dengan keadaan aparteme miliknya.

Suara langkah kaki muncul dari arah dapur. Seulgi kembali dengan membawa segelas minuman dingin. Tampak seperti jus jeruk. Gadis itu menyodorkannya pada Haerin. Haerin sedikit ragu menerimanya, ia takut jika gadis itu menaruh sesuatu ke dalam minumannya. Tapi prasangka buruknya itu harus ia singkirkan dan menerima minuman tersebut. Dengan wajah ragu Haerin meneguk minuman itu, tapi ketika tegukan pertama Haerin langsung meringis.

“Ini sangat manis!”

“Ini adalah madu yang di awetkan Sehun, dia punya banyak karena ia suka dengan madu. Aku mencoba untuk mencampurnya dengan soda.”

“membuatkanku minuman ini, apa ini yang di sebut makanan bergizi? Sepertinya otakmu sama seperti ukuran tubuhmu.” Cibir Haerin sambil meletakkan minuman itu di atas meja. Seulgi mendengus dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Hey, kau yakin melakukan perubahan di saat seperti ini? Itu membuatku ingin menunjukkan pada semua anak di kelas kita bagaimana kau sebenarnya.”

Haerin tersenyum sambil menyandarkan punggunya di sofa dengan melipat kedua tangannya dan menyilang sebelah kakinya lalu berkata “Kau akan menunjukkan diriku yang sebenarnya pada semuanya?” Haerin menanggapi ancaman Seulgi santai.

“Aku mengerti. Sekarang, setelah kau minum madu itu, suaramu jadi lebih jelas dan halus.”

Haerin tertegun dan matanya menyipit ketika Seulgi mendekat ke arahnya. Sungguh gadis yang sangat menakutkan.

“Kau tidak berniat untuk menunjukkan diri aslimu bukan? Kalau begitu, ayo kita pamerkan kepalsuanmu kepada yang lain! Sepenuhnya.”

Haerin mengerutkan alisnya, ia tidak mengerti maksud ucapan gadis di depannya itu. Apakah ucapan itu hanya gertakan belaka seperti yang selalu di ucapkannya setiap kali ia mengancam dirinya?

***

Sehun menopang dagunya sambil menatap luar jendela. Pagi ini ia tidak berangkat ke sekolah bersama Seulgi karena gadis itu mengirim SMS padanya mengatakan kalau ia akan berangkat ke seklolah bersama Haerin. Seketika lamunannya buyar saat seseorang masuk dan menyapanya.

“An—“ ia setengah kaget melihat raut wajah Haerin yang terlihat kurang tidur itu. “Haerin-ssi, kau terlihat sangat lelah, kau begadang semalaman?”

“Ya, aku tidak bisa tidur semalaman bahkan aku tidak bisa melepas kelalahanku.” Jawab Haerin dengan suara serak.

“Apa kau mendapatkan perlakuan yang buruk dari Seulgi?” tanya Sehun. Lelaki itu tampak khawatir melihat kondisi Haerin yang seperti itu. Ia sudah menduga jika Seulgi akan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu mengingat Seulgi sangat membenci Haerin.

“Tidak.” Haerin menegakkan tubuhnya sambil menyentuh tenggorokannya dan berusaha mengeluarkan suaranya. “Untuk sekitar lima jam di apartemen Seulgi…tidak, enam jam…”

“Apakah Seulgi melakukan sesuatu padamu?” kini nada lelaki itu agak meninggi. Sehun tidak ingin Seulgi berbuat sesuatu yang dapat membahayakan orang lain.

Tiba-tiba Sehun terpekur saat Haerin menyebutkan nama-nama tokoh terkenal seperti Michael Jackson, Uganda dan yang lainnya. Ia melongo dengan sikap aneh gadis itu, ia mengerutkan alisnya bingung, ada apa dengan tokoh yang di sebutkan gadis itu.

“Haerin-ssi, kau baik-baik saja.” Sepertinya gadis itu sedang tidak dalam keadaan baik sekarang.

Daehyun yang baru datang menoleh ke arah Haerin. Ia melihat gadis itu bergumam tidak jelas, suaranya terdengar putus asa. Ia juga mendapati Sehun yang tampak khawatir. Daehyun diam dan merenung memikirkan apa yang sedang terjadi pada gadis itu.

***

Mesin penjual otomatis mengeluarkan sekaleng minuman. Sehun membungkuk dan megambilnya.

“Oh ya, aku membuatkannya campuran dari 150 imitasi yang berbeda! Itu ledakan yang luar biasa!” Seulgi menceritakan pengalamannya bersama Haerin malam itu. Ia dengan bangga menunjukkan betapa suksenya ia mengerjai gadis itu.

“Aku bahkan tidak bisa menebak bagaimana cara menirukan Michael Jackson.” Sahut Sehun sambil membuka tutup kaleng minuman di tangannya itu.

“Aku bilang aku akan mengeluarkannya jika dia tidak melakukan apa yang aku inginkan. Kemudian dia panik dan mulai melakukan semua yang aku inginkan.”

“Sangat kejam.” Sahut Sehun lalu meneguk isi munumannya. Lagi-lagi Sehun mulai simpati pada gadis itu.

“Tidak, aku bersyukur, Seulgi-ya.” Entah dari mana Daehyun muncul lalu membantah ucapan Sehun dan mendukung Seulgi. Sontak gadis itu menoleh dan sekujur tubuhnya membatu. Raut wajahnya kaget setengah mati. Sial! Kenapa di saat ia sedang menjelek-jelekkan Haerin Daehyun selalu muncul dan membuatnya selalu berpikir bahwa Daehyun akan benar-benar membencinya.

“D-Daehyun—“ pekik Seulgi kaget.

“Seulgi-ya , ada yang ingin aku tanyakan?” tanya Daehyun dengan wajah seriusnya. Seulgi sontak menunjuk dirinya sendiri. Sementara Sehun hanya diam sambil menghabiskan minumannya.

***

“Haerin-ah, kau tidak terlalu baik hari ini. Apakah kau yakin, kau tidak ke ruang kesehatan?” Yerin khawatir melihat kondisi Haerin serta wajahnya yang terlihat pucat.

“Aku baik-baik saja, sungguh.” Haerin berusaha menenangkan kedua temannya itu dengan bersikap seolah dirinya tidak apa-apa. Baru saja ia akan menoleh ke arah Yerin ketika dua orang berdiri di depannya dan langkah kakinya terhenti.

“Hei, gadis bodoh. Lamban sekali kau!” ucap Seulgi sarkatis. Sementara lelaki di sampingnya hanya diam sambil memalingkan wajah. Ada apa dengan dirinya yang sekarang? Kenapa ia harus menghadapi situasi seperti ini? Kenapa juga ia harus ikut campur dalam masalah antara dua gadis yang menurutnya sama sekali melenceng dari tujuannya yang sebenarnya. Sehunpun mengedarkan pandangannya di sepanjang koridor mencari sosok gadis yang ia sukai.

“Gadis bodoh?” pekik Haerin mengulang perkataan Seulgi yang menurutnya itu sangatlah melecehkan dirinya. Sungguh menyebalkan.

“Ya, kau. Yang memasang wajah manis dan polos, begitu sepanjang waktu, dan itu selalu membuatku gerah!” Cela Seulgi tanpa melihat situasi koridor yang saat itu sedang ramai oleh murid yang berlalu lalang. Tapi itulah tujuannya untuk menunjukkan jati diri Haerin yang sebenarnya.

Haerin memekik kaget, ia sungguh tidak nyaman dengan ucapan Seulgi barusan. Gadis itu sungguh keterlaluan dan berusaha menjatuhkan dirinya di depan semua orang.

“Lain kali, cepatkan langkahmu!”

Haerin dengan cepat mendekat ke arah Seulgi dan menundukkan kepalanya mengingat tubuh Seulgi yang sedikit lebih pendek darinya. “Kenapa aku harus menurutimu, hah?! Aku punya rencana dengan temanku—“ namun ucapannya terhenti saat Seulgi menepuk pundaknya lalu berkata “Michael Jackson membimbing bus, Monalisa menyerang sudut di 200 kilometer per jam. Pikirkan baik-baik! Aku sudah mengambil gambar. Jika kau macam-macam akan kusebarkan.” Sontak wajah Haerin pusat pasih mendengar ucapan Seulgi dengan kata-kata terakhirnya yang mengancam dirinya dengan photo yang menampilkan dirinya sedang beradegan konyol malam itu. Sial!

Yerin tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena Haerin dan Seulgi berbicara dengan berbisik. Belakangan ini ia selalu melihat Haerin dan Seulgi bersitegang dan tak jarang ia mendapati Haerin mengumpat dan bersikap menakutkan.

Dengan sangat terpaksa Haerin menuruti kemauan Seulgi yang memintanya untuk makan siang bersama jika tidak riwayatnya akan tamat di sekolah itu. Ia akan menyusul Seulgi dan Sehun yang lebih dulu pergi setelah ia meminta maaf pada Yerin karena ia harus membatalkan janjinya karena akan makan siang bersama Seulgi.

***

Haerin mendesah sambil menatap bekal makan siangnya. Saat ini ia sedang berada di dalam kelas bersama Sehun yang duduk di sampinya sedangkan Seulgi dan Jinri duduk bersebelahan di depannya. Ia merasa tidak ada selera makan jika situasinya seperti ini. “Ini seharusnya…” gumam Haerin kesal dengan pandangannya tidak terputus dari bekal makan siangnya. Sehun yang mendengarnya menoleh lalu beralih menatap Seulgi yang sedang menyantap bekalnya dengan malas. Sementara Jinri dengan lahap menyantap bekalnya tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.

“Jika dia terus berinteraksi dengan orang hanya menggunakan kebohongannya, Haerin tidak akan mendapatkan teman sejati. Jadi aku meminta kalian berdua yang mengetahui sifat aslinya untuk membantunya.”

“Bahkan jika kau mengatakan bahwa dia…ah, baiklah aku tidak keberatan.” Sehun menoleh dan melihat Seulgi dengan wajahnya yang menunduk. Gadis itu sadar jika Daehyun memang sudah tahu wujud asli Haerin, dan itu membuatnya berpikir kalau selama ini ia selalu berpikiran buruk kalau Daehyun sangat membencinya.

“Tapi bagaimanapun juga hubungan Seulgi dan Haerin itu tidak baik.”

“Seulgi-ya.” Panggil Daehyun sambil mendekati Seulgi. Gadis itu terpekur lalu mengangkat wajahnya. Ia sangat terkejut mendapati Daehyun sekarang sangat dekat dengannya.

“Tolong! Kau satu-satunya teman perempuan yang bisa membantuku.”

Sehun mengela nafas panjang mengingat percakapan antara ia, Daehyun dan seulgi beberapa waktu lalu. Apakah tindakan Daehyun ini akan berhasil? Di samping itu juga Sehun merasa sangat kesal dengan sahabatnya itu. Laki-laki itu selalu saja melimpahkan masalah Haerin pada dirinya dan kali ini pada Seulgi, setelah itu ia langsung saja pergi ke dewan mahasiswa.

Lagi. Sehun untuk kesekian kalinya menghela nafas panjang. Sehun melirik sekilas bekal makan siang yang di buatkan Seulgi untuknya sambil menopang dagu dengan sebalah tangannya lalu setelah itu ia beralih memandang Jinri yang duduk seberangnya. Kapan ia bisa mendekati gadis itu jika orang yang membuat kesepakatan dengan dirinya sibuk dengan dirinya sendiri—Kim Seulgi. Tapi entah apa yang membuat matanya beralih menatap gadis yang duduk di sampingnya itu—Kim Haerin.

***

Sore itu langit tampak mendung dengan awan hitamnya. Jam berakhirnya pelajaran sudah berbunyi dan semua murid sudah bersiap untuk berkemas dan pulang ke rumah masing-masing. Suasana kelas 3-C masih ramai dan para murid belum meninggalkan ruangan karena mereka masih saling bercengkrama satu sama lain sebelum keluar kelas.

“Semuanya, mohon perhatiannya sebentar!” Daehyun berdiri di depan kelas dan akan mengumumkan sesuatu kepada semua teman-temannya.

Sontak semua murid langsung menoleh dan Daehyun langsung menjadi pusat perhatian. “Hari ini seharusnya kita memiliki relawan untuk membersihkan lingkungan yang yang telah diatur dewan siswa setiap bulan. Tapi karena sangat sibuk, kali ini kita yang harus bertanggung jawab. Adakah pahlawan pemberani yang ingin berpartisipasi? Silahkan angkat tangan.” Jelas Daehyun dengan pandangannya yang mencari-cari siapa yang akan bersedia mengangkat tangannya.

Sehun yang memang tidak berniat untuk mengikuti acara ini mengabaikan pengumuman tersebut. Ia lebih memilih untuk langsung pulang kerumah ketimbang melakukan acara seperti ini.

“Oh, Oh Sehun! Kau akan ikut?”

Mendengar namanya di panggil, Sehun langsung mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sebelah tangannya terangkat. Lelaki itu menoleh dan melihat Seulgi berjongkok sambil mengangkat lengannya ke atas. Sehun berdecak kesal karena seulgi bersikap seenaknya. Rencana tidur nyenyaknya sepulang sekolah ini gagal dan hancur begitu saja.

“Baiklah kita akan berkumpul di lapangan.”

Sehun dan Seulgi sedang berada di lorong loker. Mereka berdua mengganti sepatu masing-masing setelah sebelumnya mereka mengganti pakaian sekolah dengan mengenakan seragam olahraga. Sehun menutup loker dengan malas. Kalau bukan karena gadis itu, dia tak akan sudi ikut acara seperti ini.

“Kenapa aku harus ikut?”

“Lihatlah, aku mengambil tanggung jawab dan datang bersama-sama untuk berpartisipasi denganmu.” Jawab Seulgi sambil menutup lokernya lalu menoleh ke arah Sehun yang bersandar di depan lokernya.

“Apa yang kau katakan? Kau hanya ingin meluangkan lebih banyak waktu dengan Daehyun, kan?” sahut Sehun dengan tatapan sinis. laki-laki itu tahu maksud Seulgi ikut acara itu walaupun Seulgi berusaha mengelak dengan berbagai macam alasan.

Sehun akan menegakkan badannya dan kemudian pergi ketika seseorang memanggil namanya. “Sehun-ah!” Haerin dan Jinri muncul dari bali koridor dengan senyum mengembang. Sehun dan Seulgi menoleh secara bersamaan. “Aku ikut juga. Aku baru saja pindah, jadi aku ingin lebih akrab lagi dengan lingkungan sekitar sekolah.” Ucap Haerin sambil tersenyum.

“Jinri-ya!” sungut Seulgi ketika melihat Jinri dekat dengan Haerin. Jinri hanya nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Aku hanya ingin menjadi relawan yang baik. Jadi aku ingin membantu Haerin untuk mengenal lebih baik sekolah kita.” Ucap Jinri sambil terkekeh dengan sebelah tangannya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Ayo lakukan yang terbaik bersama-sama, Sehun-ah.” Ucap Haerin sambil menepuk pelan pundak Sehun. Lelaki itu tertegun lalu mengangguk sebagai jawaban. Sehun bingung kenapa gadis itu mau ikut sementara Seulgi juga ikut. Seingatnya Daehyun tidak memintanya untuk mengajak Haerin.

Sepanjang jalan Seulgi tak hentinya menggerutu, gadis itu sungguh kesal dengan ketua dewan yang selalu bisa mengambil perhatian Daehyun jika ia sedang berpidato di hadapan semua murid. Apa hebatnya wanita itu? Apa hanya karena ia adalah seorang ketua dewan mahasiswa yang di takuti seluruh murid, Daehyun sampai terkesima seperti itu? Sial! Tidak itu saja, kekesalan Seulgi semakin memuncak ketika rencananya untuk dapat bergabung dengan Daehyun gagal karena laki-laki itu malah pergi bersama kelompok dewan mahasiswa lainnya termasuk bersama perempuan itu. Jika ia tahu akhirnya akan seperti itu, maka ia tidak akan ikut acara ini.

Seulgi, Sehun, Haerin dan Jinri berjalan menyusuri pinggiran jalan dengan kantong plastik besar yang akan di gunakan untuk menampung sampah. Mereka berempat mendapat tugas memunguti sampah yang ada di sepanjang jalan kota dekat sekolah.

Haerin tampak bersemangat menjalani tugasnya. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan mencari sampah yang bisa ia punguti. Tepat beberapa sentimeter darinya, gadis itu menemukan tutup botol berwarna putih. “Hei, ada sampah terlihat seperti Kim Seulgi…maksudku, lihat ini, ini begitu tidak berdaya dan kecil.” Sindir Haerin sambil menunjukkan tutup botol berukuran kecil itu.

Seulgi yang mendengar ucapan Haerin langusng diam dari kegiatan menggerutunya. Mood yang awalnya jelek kini semakin buruk akibat sindiran Haerin padanya. Tidak mau kalah gadis itupun merogoh kantong plastiknya dan mengambil sepotong plastik kecil yang basah.

“Nah, sepotong sampah ini terlihat seperti dirimu.” Katanya sambil mengangkat plastik kecil itu dan memperlihatkannya pada Haerin. “Ini basah, ceroboh dan lembek sepertimu.”

Kini mereka berdua saling adu tatap dengan tatapan membunuh. Sehun yang memperhatikan kedua gadis itu menghela nafas panjang lalu ia menggelengkan kepalanya. Sampai kapan mereka akan bersikap seperti anak kecil? Entahlah.

“Mari kita pergi ke arah lain, Jinri-ya.” Ucap Seulgi mengajak Jinri untuk mengambil jalur lain, ia tak ingin lebih lama bersama Haerin. Dia tidak ingin moodnya yang sudah jelek bertambah jelek jika ia terus bersama dengan gadis itu.

“Sepertinya kalian memang harus di pisahkan.” Sahut Jinri yang memang harus memisahkan mereka berdua agar tidak ada keributan nantinya. Dengan cepat Seulgi meraih tangan Jinri lalu membawanya pergi mejauh. Sehun yang tidak rela Jinri pergi hanya bisa bersabar. Sepanjang jalan ia dan Jinri selalu berdampingan dan itu membuatnya sangat senang dan bersyukur Seulgi mengajaknya ikut acara ini, namun sekarang gadis itu pergi. Tsk!

“Mari kita pergi dari sini.”

“Ya! Ada banyak sampah yang sedang menunggu kita!”

Kini Sehun dan Haerin hanya berdua. Ada rasa lega yang di rasakan Haerin ketika Seulgi dan Jinri pergi dan menyisakan ia dan Sehun. “Mereka berdua tidak bisa di andalkan, bukan?” ucap Haerin lalu menoleh ke arah Sehun “Orang yang meninggalkan yang harusnya meminta maaf, benarkan?” Haerin berusaha menjatuhkan Seulgi dan Jinri di hadapan Sehun, namun laki-laki itu tidak bergeming karena ia tahu jika semua itu di karenakan oleh ulahnya yang memancing kekesalan Seulgi.

Haerin dan Sehun sekarang berada di bawah jembatan yang di bawahnya ada aliran sungai yang airnya tidak begitu deras. Rumput ilalang yang tumbuh di sekitaran sungai tumbuh sekitar tiga puluh sentimeter sehingga mereka harus bekerja lebih keras agar dapat memunguti sampah yang bersembunyi di balik rerumputan itu.

“mengambil sampah ternyata bisa sangat menyenangkan juga. Atau mungkin itu karena aku bersama-sama dengan kau, Sehun.” Kata Haerin sambil berjalan ke tepi sungai.

“Haerin-ssi, berhati-hatilah.”

“Sehun-ah, bisakah kau tidak memanggil akhiran ssi saat menyebut namaku? Aku ingin kita lebih akrab satu sama lain.” Sahut Haerin sambil tersenyum. Selama ini ia mendengar Sehun selalu menyebut ssi pada saat ia memanggil namnya. Ia tahu ia dan Sehun baru kenal dan wajar jika orang yang baru di kenal memanggil nama orang lain dengan embel-embel ssi. Tapi gadis itu ingin lebih dekat dengan Sehun dan itu tidak masalah baginya. “Ayo kita ke arah sana!”

Namun saat ia akan berbail ia tidak sengaja menginjak sesuatu yang lembek, gadis itu terkejut saat ia hampir terjatuh karena ia menginjak tanah liat yang basah.

“Haerin, kau tidak apa-apa?”

“Menjijikan! Apa ini?” Pekik Haerin kesal saat melihat sepatunya kotor ketika menginjak tanah liat.

“Haerin…”

Haerin terpekur ketika Sehun memanggil namanya, gadis itupun langsung menoleh sambil memaksakan untuk tertawa agar sikapnya barusan tidak membuat Sehun berpikir negatif padanya. “Ah, itu membuatku takut. Astaga sepatuku basah semua—Aaargh!” Haerin kaget saat melihat sesuatu melompat ke atas sepatunya, gadis itu terpeleset dan jatuh saking terkejutnya. Seekor kodok melompat lompat dan itu membuat Haerin geli dan merasa jijik.

Sehun berlari menghampiri Haerin, gadis itu yang terus berteriak sambil menendang nendang kakinya agar kodok itu pergi menjauh. Sehun menyuruhnya untuk tenang dan tidak banyak bergerak agar ia bisa menyingkirkan binatang itu namun Haerin tetap bergerak dan berteriak hingga kakinya menendang wajah Sehun.

“YA!! Jangan menendang wajahku!”

Saking paniknya Haerin tidak mendengar ucapan Sehun dan tidak menghiraukan apa yang terjadi, yang ia inginkan adalah binatang menjijikan itu cepat menjauh darinya. Setelah beberapa saat kodok itu berhasil Sehun tangkap dan membuangnya ke sungai. Nafas Haerin tersengal-sengal, baru kali ini ia melihat binatang menjijikan itu.

“Ok, semuanya baik-baik saja sekarang.” Hibur Sehun agar Haerin tidak ketakutan lagi. Namun tiba-tiba ia tertegun saat Haerin berdiri sambil berteriak geram.

“Aku tidak ingin melakukan ini lagi.” Kata Haerin. Seluruh tubuhnya bergetar dan kedua tangannya terkepal kuat. Ia sungguh tidak tahan jika harus melakukan semua itu terus menerus.

“Haerin…”

Sontak Haerin menolah ke belakang menatap Sehun, seketika seulas senyum tergambar di wajahnya. Lagi-lagi ia harus bersikap manis di hadapan semua orang dan itu membuatnya muak.

“Hanya bercanda!” ucapnya sambil terkekeh. “Apakah aku menipumu.”

Cuaca yang awalnya mendung kini berubah menjadi hujan. Dengan cepat Haerin mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya dari guyuran hujan. “Hujan turun, pakaianku bisa basah semua.” Ujarnya dengan sikap yang masih sama—sikap manis yang di buat-buat.

“Kita harus segera mencari tempat untuk berteduh. Benarkan, Se—“ ucapannya terhenti saat melihat Sehun menatapnya tajam.

“Sudah cukup! Berhentilah seperti itu!”

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti?”

“Satu yang tidak terpengaruh. Itu adalah aku! Kenapa kau ingin melakukan pekerjaan merepotkan ini?” inilah saatnya ia harus menunjukkan pada gadis itu bahwa selama ini ia sama sekali tidak termakan sikap manis yang selalu ia tunjukkan pada semua orang. Sehun ingin kalau Haerin lebih baik bersikap apa adanya. Karena ia ingin mengenal lebih jauh tentang gadis itu dengan wujud yang sebenarnya.

“Kau tidak terpengaruh? Aku mengerti…” Haerin memalingkan wajahnya sambil menurunkan kedua tangannya hingga sekujur tubuhnya terguyur hujan. Ia tersenyum tipis mengetahui sebentar lagi semua orang akan tahu bagaimana dirinya yang sebenarnya. Pasti semua itu akan sangat menyenangkan, bukan? Tentu, dengan begitu dia tidak harus berpura-pura bersikap baik hanya untuk mendapatkan sebuah simpati. Tapi itu semua tidak mudah karena ia harus siap menanggung kebencian semua orang.

“Jadi pendekatan ini tidak bekerja padamu.” Lirihnya.

“Aku sudah tahu semuanya.”

“Kau tahu, aku tidak bisa tanpa kebohongan ini. Kau benar-benar tidak mengerti perasaanku, bukan?” kata Haerin lirih. Kedua matanya memerah namun ia tetap menahan agar ia tidak menangis di depan orang lain. Entah kenapa dadanya begitu sesak ketika ia mengingat betapa menyedihkan hidupnya sebagai seorang artis. Selama ini ia harus bersikap baik agar bisa menjaga namanya walaupun hujatan tak hentinya menerpa dirinya. Tak ada satupun yang bisa mengerti perasaannya, baik orang tuanya atau siapapun. Lelah. Ia sudah lelah dengan semua ini, tapi ia harus tetap melakukannya.

“Terus terang, aku—“

“Tidak apa-apa. Aku memang orang yang bodoh.” Haerin menampakkan seulas senyum namun bersamaan dengan itu setetes air jatuh dari pelupuk matanya. Gwenchana, laki-laki itu tidak akan tahu jika aku menangis. Begitulah yang ia pikirkan, setidaknya air hujan membantu menyembunyikan kesedihannya.

Sehun tertegun melihat senyum itu, ia tahu kalau gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu di balik senyumannya. Walaupun gadis itu tidak menatapnya namun ia bisa merasakan kesedihan pada diri Haerin. Sehun baru akan mengatakan sesuatu namun gadis itu tiba-tiba berlari dan membuatnya bingung, ada apa dengannya?

Haerin berusaha menenangkan dirinya agar tidak larut dalam suasan hatinya saat ini. Iapun menoleh ke arah Sehun, namun saat matanya tak sengaja menangkap sosok yang selama ini menerornya, Haerin cepat-cepat berlari agar orang itu tidak dapat mengambil gambar dirinya. Gadis itu tidak menghiraukan panggilan Sehun dan terus berlari.

***

“Hei, kenapa tiba-tiba? Jika kita berteduh kita akan ter—“ Haerin membekap mulut Sehun dan menariknya untuk menunduk agar penguntit itu tidak tahu keberadaan mereka berdua. Setelah Sehun berhasil mengejar gadis itu, kini mereka sampai di sebuah parkiran umum dan Haerin bersembunyi di sana. Sehun tidak mengerti sampai pada akhirnya ia tahu jika gadis itu menghindari kejaran penguntit yang waktu itu.

Mereka tidak sadar bahwa jarak mereka terlampau sangat dekat bahkan wajah keduanyapun hanya berjarak beberapa senti saja. Gadis itu belum melepaskan dekapannya. Ketika Sehun melirik gadis itu, Sehun tertegun mendapati wajah Haerin begitu dengan dengannya. Kini ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik gadis itu. Walau rambutnya basah serta wajah yang tanpa make up karena tersapu air hujan, itu tidak membuat kecantikan Haerin luntur. Astaga! Apa yang baru saja ia pikirkan?

Ia baru sadar jika gadis itu belum melepaskan tangannya dari mulutnya dan cepat-cepat ia menyuruh Haerin melepaskan dekapannya. “Jika kau terus membekapku seperti ini, aku akan kehabisan nafas.”

“Jika kau terus membekapku seperti ini, aku akan kehabisan nafas.” Haerin sontak menoleh ke arah Sehun namun betapa terkejutnya ia ketika wajah laki-laki itu begitu dekat dengannya.

DEG

Dengan cepat gadis itu melepas dekapan tangannya dari mulut Sehun. Ia baru sadar bahwa ia sedari tidak melepas dekapan tangannya. Bodoh. Gadis itu salah tingkah dan tidak tahu harus bebuat apa, yang bisa ia katakan hanya kata maaf saja. Lagi. Jantungnya berdebar tak karuan untuk kedua kalinya saat dekat dengan lelaki itu. Satu hal yang ia sadari ketika melihat wajah Sehun—tampan.

Ok. Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia harus pergi dari sana. Penguntit itu berada beberapa meter dari tempat ia bersembunyi.

“Dia yang kemarin. Kenapa dia ada di sini?” ucap Sehun setelah ia dan Haerin menjaga jarak beberapa senti dari sebelumnya.

Oh Tuhan. Kenapa hanya mendengar suara laki-laki itu membuat jantungnya terus berdebar seperti ini. Sial! Tapi dengan cepat ia menguasai dirinya agar ia tidak merasa canggung saat ini.

“Sebenarnya…dia…adalah seorang sasaeng fans.”

“Sasaeng-? Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa?” Sahut Sehun dengan nada khawatir. Ia tahu jika seorang sasaeng itu sangatlah berbahaya bagi seorang artis.

“Ini…ini membuatku frustasi.” Jawab Haerin dan tampak raut ketakutan dan putus asa tergambar pada wajah gadis itu.

“Frustasi?”

“Aku tidak mau mengakuinya. Hidupku di lempar ke dalam kekacauan oleh orang seperti dia. Aku pindah karena dia.” Keluh Haerin. Sasaeng itu tampak sibuk mencari-cari keberadaan Haerin.

“Aku tidak ingin menimbulkan masalah bagi orang tuaku. Jadi aku pindah ke sini sendirian untuk merawat saudaraku. Mengambil istirahat sejenak dari pekerjaan model, namu…sekarang aku sudah dikepung di semua jalan kota ini.” Haerin menjelaskan semua kesulitannya. Perasaan sedih, marah, kesal bercampur jadi satu.

Sehun tertegun menatap Haerin, dia baru tahu jika kehidupan gadis itu sangatlah berat. Ketika tangannya terangkat untuk menpuk pundak Haerin dan memberikan ketenangan pada gadis itu, seseorang berteriak memanggil namanya dan Haerin.

Suara yang tak asing baginya. Dari kejauhan ia melihat dua orang berjalan dengan mengenakan jas hujan plastik. Tak salah lagi itu Jinri dan Seulgi.

“Aneh. Kemana perginya mereka berdua? Seingatku mereka berjalan ke arah sini.”

“Aku tidak peduli lagi, mari kita pulang Jinri-ya.” Seulgi tampak sudah lelah mencari keberadaan kedua temannya itu—tidak hanya Sehun bukan Haerin—benar-benar sial ia hari ini.

“Wah, lucunya. Aku melihat monster berukuran kecil.”

Seseorang muncul dari balik pohon dengan wajah yang sumbringah. Laki-laki yang terlihat seperti mahasiswa itu membidik kameranya ke arah Seulgi dan Jinri. Kedua gadis itu menoleh dengan tatapan bingung.

Sementara Sehun dan Haerin terkejut. Keduanya khawatir jika sasaeng itu melakukan sesuatu yang berbahaya pada Seulgi dan Jinri.

“Aku tidak ingin di sebut sebagai monster oleh orang yang mencurigakan sepertimu.” Ucap Seulgi sarkatis. Ia marah jika seseorang yang tidak ia kenal mengatainya monster.

“Apa yang dia lakukan? Sasaeng itu!” pekik Haerin. Rasa takut begitu memuncak begitu mengingat kejadian yang pernah di alaminya. Ia takut apa yang ia alami akan terjadi pada Seulgi dan Jinri.

“Dan selain itu, izinlah terlebih dahulu jika ingin mengambil gambar! Kau benar-benar menjijikan.”

“Kenapa tidak boleh? Ini tidak seperti yang kau pikirkan…”

Seulgi tak peduli dengan ucapan orang asing itu. Tanpa basa-basi ia melempar kantong plastik yang penuh berisi sampah ke tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaga. Orang itu tersungkur ke tanah.

“Jika kau tidak pergi dari sini, maka aku akan menghancurkan kamera dan juga pemiliknya.” Ancam Seulgi sambil mengambil bongkahan batu di sampingnya untuk bersiap menghajarnya. Sasaeng itu tampak ketakutan dan tidak menyangka bahwa orang yang di anggap monster lucu kini berubah menjadi monster yang ganas. Diapun berlari terbirit-birit menjauh dari amukan Seulgi.

Seulgi tak membiarkan begitu saja penguntit itu kabur, gadis itu dengan cepat mengejarnya. Jinri yang selalu bersamanya juga ikut mengejar Seulgi agar temannya itu membiarkan laki-laki itu pergi.

“Si bodoh itu.” Gumam Sehun.

“Kenapa…kenapa dia tidak takut?” Haerin terpaku melihat adegan di hadapannya. “Maksudku, orang menyebalkan itu?…kenapa aku.”

Sehun menoleh dan melihat Haerin bergumam dengan wajah terpakunya, ia bingung namun tidak terlalu memikirkannya. Sehun berdiri dan akan mengejar Seulgi lalu menghentikannya.

“Kenapa aku mengambil istirahat dari kerja, bahkan pindah sekolah, semua karena orang menyebalkan itu? Gugup, stres, sangat buruk…ini berarti aku kalah dari orang yang tidak berharga itu dan juga pada Kim Seulgi.” Haerin bangkit dari persembunyiannya dengan penuh percaya diri. Ia tahu ini saatnya ia menujukkan bahwa ia bukan gadis lemah yang hanya bisa bersembunyi tanpa perlawanan.

Baru beberapa langkah, Sehun menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan Haerin.

“OH SEHUN! SEPERTI YANG KAU KATAKAN SEBELUMNYA, BAHWA AKU HARUS BERHENTI MEMAKAI KEBOHONGAN INI. KAU BILANG AKU HARUS MELAKUKAN ITU, KAN?” kini Haerin bisa merasakan kelegaan dalam hatinya. Tidak pernah ia merasakan percaya diri yang begitu kuat seperti saat ini. Senyumnya mengembang. Baiklah ini saatnya ia harus memberi pelajaran pada sasaeng tidak berguna itu. Dengan langkah mantap, Haerin berlari dan mengejar laki-laki itu.

Seulas senyum tergambar di wajah tampan lelaki itu. Sehun senang jika gadis itu mendapatkan kekuatan untuk dapat melawan dirinya yang lemah. Yah, seharusnya seperti inilah yang harus Haerin lakukan—melawan dan tidak bersembunyi.

Tunggu! Sampai kapan ia harus berdiam diri sambil senyum-senyum tidak jelas seperti itu. Sekarang ia harus cepat menyusul Seulgi dan menghentikan aksi bodohnya itu. Oh Tuhan, ia benar-benar sudah gila sekarang.

 TBC

Advertisements

15 thoughts on “Maid 90 Days // Chapter 7”

  1. YeAaaaay seulgi hajar aja seulgi……aku mendukungmu….orangckyk hitu emg harus di lawan dari pada di diemin malah makin kebablasan itu orang…….haerin mulai berubah yaaaah…….sehun bakal suka sama seulgi kan …… Bukan haerin

  2. anyeong
    woaaa , daebak ,, fuhh seulgi keren , ooh ya apa sehun terpesona ma haerin , lalu seulgi gimana dong 7n bukannya sehun ada sedikit perasaan ke suelgi tapi belum menyadarinya , kan?? apa ke2nya seulgi ma haerin akan ehm ….

    p_@+
    fighting

  3. Aaaaaaa aku gamau sehun suka haerin ya authooor. Jangan sampe gaboleh pokonya gaboleeh!!! Ahahah makin seru loh author. Tapi sehun seulgi momen nya dikit yah mgkin karna di chap ini khusus bahas si haerin kali yah. Btw semangat buat nextnya! Bakal selalu ditunggu loooh

  4. Hoho seulgii kerennn
    jjang deh
    tapi yaknya frekuensi seseul berkurang ..
    dan bagaimana dengan jinri dan sehun???

    Ditunnggu next chapternya…
    Juseyo…jangan lama ya thor^^
    autho fighthing!!!!

  5. Seulgi-haerin kalo ketemu gapernah akur ya haha
    Sehun kok jadi terpana gitu sih sama haerin?
    Katanya seneng ada jinri, tapi malah mandangin haerin…gapaham
    Sasaeng nya takut sama seulgi hahaha
    seulgi emang galak sih, jadi langsung ngibrit
    Berarti selama inI haerin cuma ngediemin itu sasaeng, ga dilawan
    Ish sehun jangan terbawa suasanaaaaa
    Jaga diri 정신차려
    Jangan terpesona gitu sama haerin
    Overall serruuuu
    Greget sama sehun yang makin kesini makin terpana sama haerin
    Next ditunggu

  6. Udh nunggu setahun akhirnya update juga
    Hampir lupa juga sama ceritanya hehe
    Suka ah sama karakternya seulgi haha
    Jangan jangan sehun suka sama haerin gitu?? Yaelah udah kek sehun mah sama seulgi aja-,-

  7. Annyeong.Wahh seulgi hebatt,ayo semangat seulgi ngejar sasaeng nya itu.hemm momen sehun-seulgi nya berkurang pengen momen diperbanyak.cerita keren sampe baper bacanya.ditunggu aja kelanjutannya.semangattt!!

  8. Haha 😀 lucu banget sih tingkah seulgi 🙂 aneh, tapi dari ff ini memberi pelajaran buat kita untuk menjadi diri sendir, bukan menjadi orang lain untuk mendapat teman atau pun perhatian 🙂 ditunggu next chapter

  9. wah seulgi makin tajam nih,aku takut klo sehun nantinya sama haerin,oh iya terus perjanjian sehun ke seulgi masih berjalan kan?

  10. akhirnya ff ini ada kelanjutannya ^^ seulgi kereen (y) sehun jangan terpesona ama haerin dong -_- sehun pantesnya ama seulgi 😀 makin seru nihh ffnya.. ditunggu next chapternya ya 🙂

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s