Fanfiction, Romance, School Life, Uncategorized

Maid 90 Days // Chapter 5-6

MAID901[1]

Title // Maid 90 Days

Author // Redbaby

Main cast // Oh Sehun—Kim Seulgi—Park Daehyun—Choi Jinri—Kim Haerin

Genre // Romance—School Life

Prev. PrologPart 1Part 2aPart 2bPart 3Part 4

DON’T BE A SILENT READER!!!

PLAAKK

“Ada nyamuk di wajahmu.”

Haerin membeku seketika saat sebuah tamparan medarat di wajahnya. Sementara Seulgi dengan sikap santainya menepukkan kedua tangannya seolah ia membersihkan nyamuk yang ia tangkap. Di saat yang bersamaan dari balik tembok yang tak jauh dari kedua gadis itu, Daehyun dan Sehun menghela nafas lega sekan tamparan Seulgi sangat tepat untuk menghentikan ocehan tidak jelas Herin.

“Haerin-ah ayo kita pulang!” Ucap Daehyun santai. Haerin yang tak terima dengan perlakuan Seulgi langsung merengek pada Daehyun dan mengatakan bahwa gadis itu memperlakukannya dengan tidak baik. Namun Daehyun tak memperdulikan rengekan manja Haerin dan terus berlalu.

Seulgi yang tertegun sambil menatap sebelah tangan yang ia gunakan untuk menampar Haerin barusan tak menyangka jika Daehyun melihat sifat buruknya. Laki-laki itu pasti marah dan tidak akan memaafkan sikap cerobohnya itu. Bodoh! Kenapa ia lupa jika Daehyun ada di sana?

***

“Makannya pelan-pelan saja!”

Nasehat Sehun berlalu begitu saja. Seulgi melahap makannya dengan garang, luapan emosi yang tak terbendung mengingat kejadian waktu itu masih saja membuat gadis itu kesal. Tak terhitung berapa mangkuk ramyun yang ia habiskan, ia tak peduli, yang jelas dengan makan banyak seperti inilah yang biasa ia lakukan untuk meluapkan kekesalannya.

“Ini semua salahnya. Wanita menyebalkan itu! Hanya mengingatnya saja membuat aku lapar.” Gerutu Seulgi di sela mengunyah makannya.

“Kau marah, kan? Tapi itu tidak bagus karena Daehyun—“

“Ap-apa yang aku lakukan? Melakukan yang mungkin telah membuat Daehyun membenciku…” sela Seulgi sambil menutup mulutnya, raut wajahnya tampak cemas dengan apa yang akan terjadi pada dirinya jika apa yang ia pikirkan itu terjadi. Tidak! Semoga itu tidak terjadi, ia tak ingin Daehyun membencinya.

“Aku tidak berpikir begitu. Daehyun tahu yang sebenarnya—“ sahut Sehun sembari menumpakah air ke dalam gelas untuk ia berikan pada Seulgi, namun lagi-lagi Seulgi menyela ucapannya kali ini gadis itu tampak begitu cemas. Ia menggebrak meja dengan kedua tangannya.

“Aku benci…wanita itu!” Ya, karena gadis itulah yang telah membuatnya merasakan perasaan tak karuan seperti ini, cemas, takut, sedih campur aduk menjadi satu. Kedua tangannya mengepal kuat.

“Jangan menangis!”

“Ada apa denganmu? Begitu lembek saat di dekatnya!” sahut Seulgi dengan lantang. Terdengar ada luapan emosi dan amarah saat ia mengucapkan kata-kata itu.

“Aku tidak benar-benar—“ ucap Sehun yang berusaha menejelaskan jika perkataan Seulgi barusan tidaklah benar, ia bukanlah lelaki yang gampang terpesona dengan gadis yang baru saja ia kenal.

“Kau tahu, tidak ada orang jujur yang menyebut diri mereka sebagai orang bodoh!” Sela Seulgi yang tak membiarkan Sehun berbicara sedikitpun, karena ia sangatlah kesal sekarang. “Apapun itu. Aku tidak akan pernah bertemu dia lagi.” Gadis itu berdiri seraya menghapus air matanya.

Sehun hanya menatapnya dengan raut wajah kebingungan lalu megehela nafas setelahnya. Ia tahu bahwa gadis itu sedang tidak ingin di ganggu dengan penjelasan apapun sekarang, yang ia bisa lakukan hanyalah membiarkannya sendiri agar gadis itu bisa menenangkan hatinya.

***

Semilir angin pagi menerobos masuk melalui celah jendela hingga mengibaskan pelan gorden yang menutupinya. Seiring dengan sejuknya angin yang berhembus, seulas senyuman manis membuat seisi kelas berdecak kagum. Namun tak begitu dengan Seulgi dan Sehun.

“Aku pindah ke sekolah ini mulai hari ini. Namaku Kim Haerin, aku harap bisa berteman dengan baik dengan kalian semua.” Ucap Haerin dengan tersenyum manis.

“Eh? Ada apa dengannya…?” celetuk salah seorang murid perempuan. “Kenapa gadis model bisa…?

“Manisnya…! sahut murid perempuan lainnya.

“Malaikat telah turun ke bumi!” seru Jiyoung

“Aku berterima kasih padamu, Tuhan!” Jonghun menimpali sambil memperbaiki kaca matanya. Kedua lelaki itu memang di kenal dengan julukan maniak wanita, apalagi jika gadis yang mereka lihat begitu manis dan…seksi.

“Semuanya! Mari kita bantu teman baru kita agar bisa terbiasa di sekolah ini. Pertama-tama memilih tempat duduk dulu ya…” ucap guru Kang sambil mencari tempat kosong yang akan di duduki Haerin.

Haerin mengangguk mengerti dan ia langsung mengitari pandangannya mencari bangku kosong yang akan ia tempati. Teriakan murid lelaki yang menawarinya untuk duduk menggema ke seluruh ruangan. Pandangan Haerin terhenti ketika ia melihat sebuah pandangan yang mengerikan. Sebuah tatapan membunuh yang di berikan Seulgi untukknya, Sehun yang melihat ekspresi wajah tidak mengenakkan Haerin langsung membuatnya mengikuti arah pandang gadis itu, iapun ikut terkejut melihat Seulgi yang tampak geram dan seakan ingin membunuh Haerin namun sedetik kemudian Sehunpun menghela napas panjang. Sepertinya perang dunia ketiga sebentar lagi akan di mulai.

Seluruh kelas 3-C sibuk melakukan kegiatan olahraga, baik itu merenggangkan otot, lari-lari kecil bahkan ada yang asyik mengobrol ria. Pagi itu pemandangan berbeda terjadi saat pelajaran olahraga di mulai. Tak seperti biasanya suasana saat itu sangatlah menyenangkan bagi seluruh murid kelas 3-C, mereka tak menyangka jika seorang artis remaja yang sedang naik daun sedang bersama mereka hari ini. Wajah yang rupawan, rambut yang menjutai indah, hingga tubuh tingginya yang proposional bak model.

“Ini keajaiban.” Pekik Jiyong.

“Aku sangat senang, aku ada di kelas ini.” Sahut Jonghun memanjatkan puji syukurnya atas keindahan hari ini.

Para murid perempuan tak hentinya memuji keindahan tubuh Haerin yang di sambut dengan senyuman bahagia Haerin. Yah, ini bukanlah kali pertama ia mendapatkan pujian dari orang-orang, namun ia bahagia bukan karena pujian yang ia terima melainkan ia sangat senang melihat tatapan kekesalan Seulgi yang memperhatikannya dari seberang lapangan.

“Haerin memang manis dan memiliki tubuh yang bagus, tapi…kemanisan dan keunikan seorang Kim Seulgi tak ada yang mampu menandinginya.” Tiba-tiba Jinri melontarkan kata-kata konyol seperti biasanya. Jinri memperhatikan Haerin dengan mata yang memicing bak seorang detektif.

“Jinri-ya—“ Seulgi mengalihkan pandangannya saat mendengar suara beberapa gadis yang terdengar cemas karena Haerin terjatuh saat melakukan lompatan jarak jauh karena terpleset.

“Kau baik-baik saja, Herin-ssi?”

“Ah, astaga kenapa aku jatuh di manapun aku berada? Ini tidak keren!” Haerin menyesali dirinya yang memang sangat ceroboh. Ia pasti akan di tertawakan melihat tindakan bodohnya barusan. Sial!

Tiba-tiba ia tertegun saat mendengar suara tawa renyah yang ia dengar dari orang-orang di sekelilingnya.

“Kau sangat cantik Haerin-ssi, bahkan saat kau terjatuh.”

“Kau tampak lucu.”

“Itu tidak lucu sama sekali, tapi…kadang-kadang mereka mengatakan bahwa ‘Haerin, kau benar-benar orang yang bodoh.” Lirih Haerin. Ia mengucapkan kalimat yang sering orang-orang lontarkan padanya, sebuah kalimat kebencian dan juga cibiran yang menyakitkan.

“Benarkah? Tapi kau tidak terlihat seperti itu.” Hibur salah seorang gadis berambut pendek yang bernama Yujin. Mendengar ucapan Yujin, Haerin mengangguk mengerti dan ia tersenyum setelahnya. Sungguh sangat menjengkelkan baginya.

“Itu hebat.” Ucap Sehun yang memperhatikan tingkah Haerin dari kejauhan sambil melakukan gerakan pemanasan.

“Ya, dia punya keahlian hebat untuk mendapatkan hati orang-orang.” Sahut Daehyun yang berada di sampinya yang juga sedang melakukan gerakan pemanasan bersama Sehun.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika dia itu—“

“Jika aku lakukan itu, Haerin tidak akan menunjukkan yang dirinya yang sebenarnya, benarkan? Itu tidak akan berhasil.”

“Apa?”

“Sejujurnya aku tidak suka sifat Haerin yang sebenarnya, itu sebabnya aku ingin semua orang tahu seperti itulah Haerin yang sebenarnya.”

“Tidak, itu—“

“Bahkan jika mereka membencinya, aku yakin dia bisa mengatasinya. Aku hanya tidak ingin dia tetap berbohong.” Daehyun memotong cepat ucapan Sehun seakan tahu apa yang di pikirkan temannya itu. Ya, ucapan Daehyun benar adanya, Haerin seharusnya tak perlu berbohong pada dirinya sendiri dan berusaha menjadi dirinya yang lain agar bisa mendapatkan simpati semua orang.

Sehun memperhatikan sikap manis Haerin yang ia tunjukan saat sedang berinteraksi dengan teman barunya. Bodoh! Untuk apa ia memusingkan sifat orang lain? Tapi sahabatnya sangat mengingankan gadis itu bersikap apa adanya di hadapan orang lain, apakah ia perlu untuk membantunya? Sudahlah! Lebih baik ia mengisi waktu kosongnya untuk membeli sekaleng minuman agar rasa bosannya cepat hilang di saat-saat jam seperti ini.

Haerin yang tersadar bahwa sedari tadi Sehun memperhatikannya, ia memalingkan pandangannya dan melihat Sehun berjalan melewatinya dan lelaki itu berlalu begitu saja. Kenapa laki-laki itu memperhatikannya? Apa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya hingga Sehun menatapnya intens seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja berputar di otaknya.

***

“Aku duluan.”

Sehun terkejut saat seseorang tiba-tiba menerobos memasukkan koin ke dalam mesin penjual minuman. Ia menoleh dan mendapati Haerin yang entah dari mana sudah berada di sampinya saat ini.

“Jadi ada mesin penjual di tempat seperti ini?” gumam Haerin sambil mengambil dua kaleng munuman yang sudah keluar dari mesin penjual.

“Kenapa kau—“

“Karena kau meninggalkan kelas saat jam keempat akan di mulai. Ini sangat menarik jadi aku mengikutimu.” Jelas Haerin sambil tersenyum manis seperti biasanya.

Sehun tertegun. Jika ia tak segera sadar maka ia akan sama seperti teman-teman sekelasnya yang lain yang termakan oleh sikap manis gadis itu. Tidak. Tidak. Sifat sebenarnya adalah…

“Membeli minuman di luar jam istirahat makan siang itu melanggar aturan sekolah, kau tahu—“

“Ini, untukmu.” Sela Haerin sambil menyodorkan sekaleng minuman pada Sehun. Sehun terdiam. Gadis ini memang sangat pandai dalam ber-akting.

“Kita mitra dalam kejahatan, bukan?”

“Aku akan membayarnya.” Sehun menerima pemberian Haerin.

“Tidak perlu.” Haerin menolak.

Oh, tidak. Semoga Sehun tidak terbawa sikap baik yang Haerin berikan padanya. Ini semua hanyalah sifat palsu gadis itu. Sadarlah, Oh Sehun! Kenapa kau diam seperti itu? Apakah kau berangsur-angsru memiliki rasa empati pada gadis itu?

“Itu permintaan maaf untuk kemarin.” Ucap Haerin sembari menyandarkan punggungnya di dinding tembok, lalu meneguk minuman kaleng yang sebelumnya sudah ia buka.

“Permintaan maaf?”

“Itu benar-benar mengejutkanku, bahwa berada di sekolah yang sama…Seulgi juga. Daehyun tak mengatakan apa-apa.” Haerin menghela nafas lalu menundukkan wajahnya dan menunjukkan bahwa ia begitu menyeselai atas apa yang sudah terjadi waktu itu. Sementara Sehun hanya diam dan menikmati minuman kaleng pemberian Haerin, ia tahu kemana arah pembicaraan gadis itu.

“Katakanlah, tentang kemarin…kau mendengar apa dari Seulgi?”

“Kemarin?”

“Kemarin, kau tahu, itu semua salahku.”

Sehun tertegun. Apa ia tak salah dengar? Gadis itu barusan mengakui kesalahannya? Oh, Tuhan kalau memang itu benar, maka 50 persen perkataan Daehyun mengenai gadis itu, salah.

“Aku memang bodoh, jadi aku pikir tidak apa-apa melihat barang Seulgi. Padahal aku hanya bercanda…tiba-tiba, dia memanggilku tidak sopan, mengatakan bahwa aku mulai…” Haerin menjeda ucapannya, gadis itu memainkan kaleng minuman di genggamannya dengan memutar-mutarnya. “Aku rasa Seulgi tidak begitu buruk. Jika aku seorang gadis yang lebih berkepala dingin, hal-hal seperti itu tidak akan terjadi. Ini sering terjadi. Setelah semuanya tahu, aku akan di benci oleh gadis lain seperti ini…jadi aku tidak khawatir. Karena aku bisa bertahan.” Jelas Haerin. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Sehun. Lelaki itu diam, tatapan dinginnya seolah berkata. Kau bahkan lebih berbisa dari ular.

“Jadi aku tidak ingin kau memberitahu siapapun tentang yang terjadi kemarin, aku—“ ucapan Haerin terpaksa terhenti saat bel pergantian pelajaran berbunyi.

“Aku mengerti apa yang kau katakan. Jadi ayo kita kembali.” Sehun berusaha bersikap normal dan seolah ia termakan kebohongan gadis itu.

“Kamshamnida.” Ucap Haerin girang. “Ayo, cepat!” Haerin dengan cepat meraih tangan Sehun dan menariknya. Gadis itu tersenyum senang, ia berhasil mengambil hati Sehun dengan begitu mudahnya.

***

Tak hentinya sehun membuang nafas keras. Sungguh pelajaran yang sangat membosankan. Pemandangan di luar jendela kini tampak tidak menarik lagi, yang menarik baginya kali ini hanya cepat pulang dan ia ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuknya. Rasa kantuk di tambah rasa pegal sudah menerpanya. Penjelasan guru Kim mengenai sejarah korea sangatlah membosankan, itu tidak lebih dari sekedar radio rusak baginya.

PLUK

Seseorang melemparkan sepucuk surat dari arah samping. Sehun tersadar dari lamunannya. Dibukanya lipatan kertas itu lalu membacanya.

‘Kenapa kau kembali ke kelas sangat lama? Kenapa bersama Kim Haerin?’

Seulgi

Sehun menengok ke belakang dan mendapati Seulgi menatapnya tajam. Sehun mendesah lalu meremas surat itu dan kemudian membuangnya. Seulgi yang melihatnya langsung terkejut sekaligus kesal. Dasar laki-laki sialan! Kenapa dia tidak membalas surat itu? Jangan-jangan? Pikiran gadis itu tak karuan hingga membuat emosinya memuncak. Awas kau Oh Sehun.

Sementara itu sebuah surat kembali mendarat di atas mejanya. Namun kali ini surat itu bukanlah dari orang yang sama melainkan dari seseorang yang ia suka. Langsung saja Sehun menengok ke belakang dan melihat Jinri tersenyum sambil melambaikan tangan padanya. Sehun tersenyum tipis lalu kemudian membuka surat itu, perasaan senang membuncah di hatinya. Ada dengan gadis itu? Apa ia menuliskan sesuatu yang sangat penting?

Oh Sehun. Seulgi marah. Kau tampak mencurigakan bersama gadis pindahan itu. Apakah penghianatan? Apakah kau selingkuh? Jika kau mengacuhkan Seulgi seperti itu! Akan ada hukuman!

Jinri

Sial! Ia pikir Jinri akan menuliskan sesuatu yang bisa membuatnya senang. Harapan yang sungguh sia-sia! Sialan! Kenapa jadi seperti ini? Pikirnya. Hanya karena murid pindahan itu, Seulgi bahkan Jinri mengira ia dan Haerin ada hubungan khusus? Oh, ayolah itu sangat konyol.

***

Jam pelajaranpun telah usai. Semua murid bergegas merapikan barang-barang mereka agar cepat pulang kerumah begitu juga dengan Sehun. Beberapa menit yang lalu Jiyong dan Jonghun mengajak Sehun menonton pertandingan baseball sepulang sekolah namun Sehun menolak dengan alasan bahwa ia ada janji yang sangat penting. Hari ini ia lagi tak ingin pergi kemana-mana, ia sungguh lelah dan sangat ingin mengistirahatkan pikirannya. Sungguh hari yang sangat melelahkan baginya.

Tunggu. Ada sesuatu yang aneh. Dari tadi ia tak melihat Seulgi, kemana gadis itu? Biasanya Seulgi akan menunggunya setelah gadis itu selesai dari urusannya di perpustakaan—mengembalikan buku yang ia pinjam. Di carinya Seulgi di perpustakaan tapi ia tak menemukan siapapun di sana. Sehun menghela nafas panjang. Kemana perginya gadis itu? Entahlah, Sehun tak banyak menghawatirkannya. Mungkin ia pulang lebih dulu karena ia kesal karena suratnya tak Sehun balas, malah lelaki itu membuangnya begitu saja. Ya, mungkin seperti itu.

Sehun memutuskan untuk pulang saja. Ia yakin Seulgi sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Namun saat ia akan keluar dari gerbang sekolah, ia melihat Seulgi sedang terduduk di bangku taman. Gadis itu tampak sedih dengan wajah yang tertunduk. Ternyata dia belum pulang.

“Kau ada di sini ternyata.” Ucap Sehun setelah ia sampai menghampiri Seulgi. Lelaki itu duduk di samping Seulgi. “Kenapa kau tidak langsung pulang? Malah duduk di sini.”

“Untuk apa kau ke sini?” balas Seulgi sarkatis dengan wajah yang masih menunduk.

“Apa yang kau katakan? Ini tentang makanan yang harus kau siapkan sepulang sekolah nanti.”

Seulgi tak bergeming. Gadis itu memeluk tas ranselnya tanpa berniat mengatakan sesuatu. Sehun bingung, ada apa dengan gadis ini? Tingkahnya sungguh aneh dan tak seperti biasanya.

“Ya, Gwenchana?” tanya Sehun sedikit khawatir sembari menepuk pelan pundak Seulgi.

“Dia bilang Daehyun…membenciku.” lirih Seulgi seraya memeluk erat ranselnya.

15 menit yang lalu…

Seulgi merapikan pakaiannya setelah ia selesai dari toilet, gadis itu meraih tasnya yang berada di atas kloset dan bersiap untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat seseorang masuk dengan tergesa-gesa. Orang itupun mengentikan langkahnya dan berdecak kesal.

“Kau menghalangi jalanku.”

“Haaah, baiklah.” Ucap Seulgi malas sambil melangkah ke samping guna memberikan gadis itu jalan dan tindak menghalanginya. Sunggu menyebalkan bertemu Haerin di saat seperti ini.

“Hmm, ternyata kau tak semenakutkan yang aku bayangkan. Ketika aku pergi ke kantor guru sebelumnya, guru-guru semua mencemaskan Kim Haerin. Mereka khawatir apakah Kim Haerin akan di siksa oleh Kim Seulgi atau tidak! Tapi semua itu tidak benar, ya? Ucap Haerin sambil tertawa kecil, ia begitu senang dapat menyindir Seulgi bahkan membuat gadis itu kesal sekalipun.

Mendengar ocehan Haerin membuat Seulgi geram. Namun ia tak membiarkan dirinya termakan oleh omong kosong gadis itu. Sekali lagi ia mendesah lalu menoleh ke arah Haerin.

“Aku akan bersenang-senang, melihat berapa lama kau dapat menyimpan wujud aslimu.” Kata Seulgi, sementara Haerin tertegun mendengar perktaan gadis di depannya itu. “Mengungkap sifat aslimu itu sangat mudah. Tapi itu akan membosankan, kan?…aku akan terus melihatmu.” Lanjutnya dengan percaya diri, namun terdengar ada nada mengancam di dalamnya yang membuat Haerin semakin tidak nyaman dengan ucapan Seulgi.

“Bahkan jika kita pindah kelas. Bahkan setelah kita lulus. Sama seperti penguntit!” ucap Seulgi dengan penuh tekanan. Haerin yang mendengarnya tak ingin membiarkan gadis itu terus menerus berbicara seolah ia tahu seperti apa dirinya yang sebenarnya.

“Kau itu anak kecil yang menyebalkan! Karena itu kau tidak punya teman, kan? Oh, hanya satu, Oh Sehun. Dia tetap terlihat seperti orang jahat, meskipun dia terpesona olehku. Tsk! Terlihat kejam.” Balas Haerin berusaha membuat Seulgi kesal, dengan begitu mereka akan seri. Ya, seperti itulah yang ia inginkan sekarang. Setidaknya ia tidak kalah dengan gadis di hadapannya itu. Namun sepertinya Seulgi tampak santai bahkan tak begitu peduli dengan ucapan Haerin.

“Tapi kau akan benar-benar sendirian—“ ucapannya terhenti saat melihat Seulgi mengacuhkannya. Kesal. Haerinpun berdecak lalu bersikap santai dengan melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku benar-benar kasihan padamu. Bahkan di benci oleh orang yang penyayang seperti Daehyun.”

“Mwo.” Pekik Seulgi.

Melihat Seulgi yang tampak terkejut dengan ucapannya itu, Haerin tersenyum miring. Usahanya membuat Seulgi kesal akhirnya berhasil.

“Karena aku sudah menceritakan semua yang terjadi di cafe. Aku rasa dia benar-benar membencimu sekarang.” Herin tertawa lepas. “Ini adalah akhir.”

Mendengar perkataan Haerin membuat Seulgi membatu seketika. Benarkan Daehyun kini membencinya? Tidak! Pasti semua yang di katakan gadis itu adalah kebohongan belaka yang selama ini ia karang hanya untuk menjatuhkannya. Namun jika itu benar…tamat sudah riwayatnya sekarang.

***

“Wanita itu mengatakan dia sudah menceritakan semuanya…aku…aku—“

Lagi-lagi karena gadis itu. Sehun untuk kesekian kalinya menghela nafas panjang karena masalah ini. Sungguh konyol.

“Itu tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa,Sehun-ah? Kau tahu kan kalau Da—“

“Karena Daehyun tahu segalanya. Dia tahu apa yang sebenarnya , apa yang terjadi di cafe dan juga yang lainnya.”

“Benarkah?” balas Seulgi cepat seraya menoleh ke arah Sehun. Lelaki itu ternyum mengiyakan.

“Selain itu, Daehyun bukan tipe pria yang membenci orang seperti itu. Kau mengerti, kan?”

“Lalu kenapa aku kecil? Kenapa aku tidak punya banyak teman?”

Haah, jika ia terus membiarkan Seulgi seperti itu maka ia akan terus di pusingkan dengan tingkah Seulgi yang iri bahkan berprasangka buruk terhadapnya juga Daehyun karena gadis pindahan itu. Cepat-cepat ia menarik tangan Seulgi dan membawanya pergi. Ia tak peduli teriakan Seulgi yang meronta di belakangnya, juga berbagai pertanyaan gadis itu. Yang harus ia lakukan adalah membawa Seulgi ke tempat di mana ia bisa sejenak melupakan gadis bernama Kim Haerin dan juga semua kebodohan ini.

***

“Hei, bagaimana dengan puding?”

“Terserah kau saja, yang penting kau harus menyiapkan makanan yang banyak untukku malam ini.”

Keduanya sekarang berada di sebuah minimarket setelah sepulang sekolah tadi Sehun mengajak Seulgi berkeliling pasar myungdeong. Tempat di mana Seulgi pasti akan betah berada di sana. Begitu banyak aneka jajanan yang sudah mereka cicipi serta mencoba berbagai model pakaian yang walaupun tidak mereka beli satupun. Walaupun begitu, setidaknya Sehun sudah berhasil membuat Seulgi melupakan kekesalannya dan berganti dengan tawa yang menghiasi wajah gadis itu.

Seulgi berkeliling memilih-milih bahan makanan yang akan ia buat nanti. Langkahnya terhenti tepat di depan rak majalah yang menampilkan photo Kim Haerin sebagai sampul depannya. Ia tampak terkejut, iapun mengambil majalah itu. Seulgi terkejut bukan karena photo cantik gadis itu, namun sebuah kalimat yang terdapat di sampul depan majalah tersebut.

Sementara itu di waktu yang bersamaan. Haerin tampak berjalan sendirian di pinggir jalan dengan mengenakan topi serta pakaian tidur. Dua buah kantong belanjaan yang penuh dengan makanan ringan dan juga permen coklat di kedua tangannya. Harein berjalan menunduk agar penyamarannya tidak di kenali para pejalan kaki. Sesekali ia memalingkan wajahnya bahkan membalikkan badannya jika seseorang menatapnya penasaran. Walaupun hari sudah gelap tapi lampu penerangan di sepanjang jalan sangatlah terang hingga mengaruskannya berhati-hati.

“Hei, ayo kita pulang. Aku sudah sangat lapar.”

“Sehun-ah, lihat ini.” Seulgi mendekatkan majalah yang ia baca pada Sehun. Lelaki itu kemudian membaca apa yang di tunjukkan oleh Seulgi.

‘Kim Haerin untuk sementara memutuskan untuk belajar’

“Itu berarti dia sedang libur, kan?” ucap Seulgi di sela perjalanan pulang mereka. Gadis itu masih bingung dengan berita yang di muat di majalah itu.

“Apa ada untungnya mengambil istirahat dari kerja disekolah kita.” Jawab Sehun yang juga tidak mengerti. Sedetik kemudian langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang tak asing baginya.

“Bukankah itu?”

“Perpempuan itu.” Yang di sahuti langsung oleh Seulgi yang juga melihat orang itu.

Seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Haerin yang sedan berjalan menunduk dan melewati gang sepi yang tak jauh dari keduanya.

“Apa itu benar-benar Kim haerin,ya? Ada dengan pakaian itu? Dan kantongnya diisi dengan permen. Apakah dia sedang mengadakan pesta di rumahnya?” gumam Sehun.

“Tidak. Bukan itu…aku melihat sesuatu yang menarik.” Seulgi tersenyum miring. Ya benar, ada sesuatu yang sangat menarik di balik tingkah aneh gadis itu. Sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk bisa memperlihatkan wajah asli Haerin ke semua orang.

***

Pagi itu langit tampak gelap, suara gemuruh menggema di atas awan. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Jam pelajaran belum di mulai, semua murid tampak asyik memanfaatkan waktu senggang mereka. Para murid membentuk kelompoknya tersendiri untuk mengobrol ataupun bermain.

“Apa? Bagaimana menurunkan berat badan?”

“Aku tidak tahu, karena aku benar-benar tidak pernah melakukan diet?”

“Tidak pernah?! Bagaimana bisa? Kau begitu langsing!”

Dua orang murid perempuan tampak antusias mewawancarai Haerin yang notabene adalah seorang artis cantik korea. Mereka berpikir bahwa inilah saatnya mengetahui rahasia badan indah seorang artis, sehingga mereka dapat mengikutinya dan mendapatkan tubuh indah bak model profosional seperti Haerin.

Harein yang menjadi objek terlihat sedikit risih dengan berbagai pertanyaan yang menurutnya sangat membosankan. Kalau saja ia bukan seorang artis, mungkin ia akan menjauh dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan bodoh seperti itu.

“Haerin menjadi pusat perhatian di kalangan perempuan.” Gumam Sehun seraya menoleh kearah Haerin. Daehyun yang mendengarnyapun menoleh ke arah yang sama.

“Jika kau memaksakan diri terlalu keras, itu hanya akan membuatmu stres. Mempertahankan keseimbangan yang baik antara makan makanan apa yang kau inginkan dan makanan yang sehat mungkin itu juga salah satu cara terbaik.” Jelas Haerin panjang lebar. Yah,penjelesan yang mungkin akan membuat kedua gadis itu akan merasa puas dan berhenti mempertanyakan hal sama terus menerus.

“YA! Apa kau yakin dengan penjelasanmu itu, huh?”

Tiba-tiba Seulgi muncul dari balik pintu yang di ikuti oleh Jinri. Sedari tadi mereka berdua menguping pembicaraan Haerin dengan kedua temannya dari balik pintu kelas. Haerin terkejut namun tak menggubris kemunculan Seulgi dan Jinri.

Seulgi menoleh ke arah Jinri lalu mengedipkan sebelah matanya seolah memberikan sebuah kode. Jinri yang mengerti kemudian mengangguk. Mereka berdua lalu berlari ke arah Haerin dan menyergap gadis itu. Mendapati serangan yang tak terduga Haerin terkejut sambil berusaha mengindar.

“YA. YA. YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN? YAAA!”

Seulgi dan Jinri tak menghiraukan teriakan Haerin. Jinri dengan semangat menggelitiki sambil sesekali meremas-remas perut Haerin. Itu di lakukannya karena ia sangat penasaran apakah tubuh langsing Haerin terdapat lemak yang tersembunyi atau tidak. Sementara Seulgi menahan kedua tangan Haerin agar ia tidak menghalangi aksi Jinri. Yerin dan Suyeong hanya bisa bengong melihat tingkah ketiga gadis itu. Begitu juga dengan Sehun dan Daehyun yang sontak menoleh saat mendengar keributan yang terjadi.

“ASAL KALIAN TAHU, KIM HAERIN MENYEMBUNYIKAN LEMAK DI PERUTNYA.” Terik Seulgi lantang.

“Ngomong apa kau, huh? YA! Lepaskan!”

“Aku yakin di dalam perut ini ada banyak makanan manis. Ada permen ada es krim mahal, ada daging dan masih banyak lagi!” ucap Jinri lantang sambil terus meremas perut Haerin.

5 menit kemudian.

Haerin terjatuh karena sudah tidak kuat lagi menahan serangan mendadak Seulgi dan Jinri. Sungguh perlakuan yang sangat keterlaluan dan mereka telah berhasil menjatuhkan harga diri Haerin di depan teman satu kelasnya. Haerin tampak mengatur nafasnya. kedua tangannya mengepal kuat, ingin sekali ia membalas perlakuan kedua gadis itu.

Sementara Seulgi dan Jinri bersorak gembira seperti memenangkan sebuah pertandingan gulat. Puas akan kekalahan yang Haerin terima, mereka berdua langsung pergi minggalkan kelas tanpa memperdulikan tatapan aneh orang-orang sekelilingnya.

“Mereka keterlaluan.” Dengus Haerin kesal.

“Sepertinya Haerin akan kalah.”

“Kau pikir Haerin akan berakhir seperti ini?”

Sehun dan Daehyun menghampiri Haerin dan membantunya berdiri.

“Gwenchana?” tanya Sehun sambil mengulurkan tangannya. Haerin mengangguk kemudian mengangkat wajahnya dan meraih tangan Sehun.

“Gwenchana. Aku tidak marah, aku rasa mereka hanya bercanda saja.” Jawab Haerin dengan seulas senyum yang di paksakan. Sehun hanya mengangguk mengerti—tahu jika itu hanya kebohongan.

***

Hujan sudah mulai reda. Sehun, Seulgi dan Jinri sedang asyik meneguk minuman kaleng dingin di atas atap sekolah. Seulgi dan Jinri tak hentinya membicarakan kemenangan mereka melawan Haerin terlebih mereka telah berhasil membuat Haerin terpuruk di depan teman sekelas yang menyaksikan aksi heroin mereka. Seulgi merasa puas sudah menumpahkan segala kekesalannya pagi tadi.

“Itu terlalu berlebihan.” Ucap Sehun sambil menyesap munuman kalengnya.

Mata tajam lelaki itu menangkap sosok laki-laki bertopi hitam dan menggunakan ransel di punggungnya. Ada sebuah kamera yang menggantung di depan dadanya. Sepertinya itu adalah seorang paparazi. Sosok laki-laki itu terlihat sedang mencari seseorang tapi gelagatnya sangat aneh. Entahlah, ia tak ingin memikirkan seuatu yang tidak penting baginya.

***

“Oh iya, Sehun-ah, mau aku buatkan salad untuk makan malam?” ucap Seulgi di sela perjalanan pulang ke rumah. Sehun yang berjalan di sampingnya menoleh lalu mengangguk.

“Aku belum pernah mencicipi salad buatanmu, aku rasa itu bukan ide yang buruk.”

Jika di pikir-pikir seharian ini Seulgi terlihat sangat senang sekali. Tak sedikitpun gadis itu memasang wajah sebalnya hari ini. Mungkin karena kejadian pagi tadi. Setidaknya Sehun untuk sementara tidak di pusingkan dengan tingkah anehnya.

“Sehun-ah!” sebuah teriakan muncul dari arah belakang keduanya.

GRAB

Seseorang dengan cepat memeluk Sehun dari belakang. Sehun terkejut begitu pula dengan Seulgi.

“A, ada apa? Haerin?”

“Sehun-ah, bolehkah aku tinggal denganmu untuk sementara?”

Sontak Sehun terkejut dengan perkataan Haerin. Dengan cepat Sehun membalikkan badannya.

“Hei, apa yang kau—“

Haerin semakin mengeratkan pelukannya. Sehun tertegun, namun ia tak sengaja melihat seseorang yang sama seperti yang ia lihat di sekolah siang tadi. Seorang laki-laki bertopi hitam dan kamera yang menjuntai di depan dadanya.

Dengan cepat ia mendekap tubuh Haerin lalu membalikkan ke arah belakang agar ia bisa menutupi Haerin dari intaian paparazi tersebut sehingga ia tak dapat mengambil gambar Haerin dan juga dirinya. Jika itu terjadi maka bisa di pastikan itu akan menjadi hot news di media masa.

Di lihatnya Haerin yang tampak begitu ketakutan dengan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Haerin tahu jika penguntit itu adalah seorang sasaeng fans yang selalu mengintainya kemanapun ia pergi. Bahkan orang itu tak segan menerornya tiap malam.

Sementara itu Seulgi diam membisu melihat adegan di yang terjadi di hadapannya. Sungguh pemandangan yang sangat menyebalkan. Segitu pentingkah Haerin sampai Sehun begitu ingin melindunginya?

“Lengkap sudah mengabaikanku di sini, menempel erat padanya, semakin lengket dengannya pula!”

Seulgi geram. Kedua tangannya mengepal erat, seolah siap untuk menghantam wajah gadis itu dan juga Sehun. Kini kekesalannya kembali memuncak. Kali ini sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa di maafkan.

Sehun sontak melepaskan pelukannya saat mendengar umpatan Seulgi. Di lihatnya Seulgi menatapnya tajam seakan siap untuk menghajarnya.

“Tunggu, Seulgi-ya! Sekarang bukan saatnya untuk ribut.” Sehun berusaha mencegah amukan Seulgi dengan meraih tangan Seulgi dan juga Haerin. Lelaki itu berlari dengan cepat sambil menggenggam tangan kedua gadis itu di sisi kanan dan kirinya. Jika mereka terus berdiam diri di sana, maka penguntit itu akan berhasil mengambil gambar dan membuat sebuah berita yang menghebohkan, bukan.

Seulgi bingung dengan sikap Sehun yang seperti ini. Sejak kapan ia mulai peduli dengan orang lain selain Jinri dan juga dirinya. Ia tahu Sehun memiliki sikap yang dingin dan tak mudah untuk simpati terhadap orang lain terlebih dengan gadis lain. Tapi sekarang…

Sementara itu Haerin juga tak kalah terkejutnya, ia begitu tertegun dengan sikap Sehun yang di anggapnya begitu berbeda dari Sementara itu Haerin juga tak kalah terkejutnya, ia begitu tertegun dengan sikap lelaki di depannya itu. Baru kali ini ada seseorang yang mau melindunginya. Tunggu…ada apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan? Mungkinkah? Oh, ini tidak mungkin. Haerin meremas dadanya sambil terus berlari mengikuti arah kemana Sehun akan membawanya.

TBC.

Note : maaf banget banget banget bagi reader yang udah nungguin ff ini dari tahun lalu, ga nyangka aku nganggurin ff ini udah setahun, huhuhu kalau ada yang udah lupa sama ceritanya aku maklumin karena mood aku bikin ff udah hilang jadi aku bersyukur sama team running man yang udah menyuburkan kembai mood aku yang udah hilang (?). oya aku mau mengucapak terima kasih banyak bagi kalian yang udah mention, SMS chat hanya untuk nanyain kapan Ffnya lanjut? Dan begitu seterusnya huwaaaa aku jadi merasa bersalah. GOMENASAAAAIIII MINNAAAA!!! Ff ini aku bikin langsung untuk 2 episode #ceileh karena ff ini selesainya sampe chapter 12 aja jadi ceritnya akan mendapatkan konfliknya di chapter ini dan selanjutnya ><

Bagi yang mau lanjut baca aku ucapin terima kasih tapi bagi yang ga mau baca apalagi yang Cuma nyeleweng tanpa permisi (komentar) aku juga ucapin banyak terima kasih dan untuk selanjutnya jangan baca bagi yang SR!!!

Advertisements

19 thoughts on “Maid 90 Days // Chapter 5-6”

  1. gomenasaaii aku lupa asal muasal munculnya si haeriin….selebihnya aaku inget kok
    aku bakal tetep baca ini ff kok
    sayang kalo nggak baca…terlanjur penasaran

  2. anyeong
    woaaaaow , keren , itu , beneran sehun ? diakan ehm mungkin tidak menyadarinya ya kalau suka ma seulgi ,, huuaaa itu aktris , jadi pihak ketiga kah? kukira daehyun ,hahaha

    @_@+fighting

  3. Ih haerin muka dua bangeett
    Sehun jangan sampe terkecoh dengan sifat sok baik nya haerin
    Seulgi emosi ya bawaannya haha
    Daehyun ga marah kok, tenang ajaa
    Nahloh haerin jangan jangan suka sama sehun? Sehun nya naruh hati ke haerin apa cuma niat nolong doang?
    Kalo jadi seulgi aku juga bakalan kesel gakaruan
    Sehun yg biasanya ga peduli sama yg lain, sekarang peduli sama haerin, kan aneh
    Overall serruuu
    Gregeetttt
    Next ditunggu

  4. akhirrrrrrnya datang jg setelah sekian lama aq tunggu…… konfliknya keren thor berhasil bikin aq ngejitak si haerin ituuuu……… d tunggu chapt. selanjutnya

  5. Ya ampuuun haha aku seneng akhirnya bisa baca lagi ff ini. Makasih masih niat mau lanjutin ya chingu. Oh ya aku ga setuju haerin sehun pokonya jgn sampe sehun ngebales perasaan haerin yah. Hahahhaa aku suka sehun seulgi nyaaa. Diyunggu next nya. Kapanpun masih bakal ditunggu kok hehe

  6. sebel bgt sama haerin.. lucu juga liat seulgi sama jinri ngerjain haerin didepan kelasnya wwkwk..rasain tuh. konfliknya makin seru nih

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s