Romance, School Life

[Japanesse Story] [蜃気楼 / Shinkiro] // Fatamorgana

-Japanesse Story-

Title |[蜃気楼 / Shinkiro] // Fatamorgana

Cast :

Futaba Ai

Yamazaki Kento as Yamada Tooma

Mikami Reiko

Miyazawa Haru

Kotoba Ryu

Genre :

School Life / Romance / Slice of Life

Episode : 12

1 – Ongoing

Rating :

General

Note : Untuk siapa saja yang terdampar di blog ini dan dengan tidak sengaja membaca cerita ini, mohon untuk meninggalkan komentar ya~

-Happy Reading-

[Tokyo, Futaba House]

“Mosi, mosi.”

“Ai chan,tolong aku! Aku tidak bisa menyelesaikan tugas Reiko sensei!”

“Gome, aku tidak bisa membantumu.”

“Ai chaaaaan.”

“Haah, baiklah, baiklah.”

Futaba Ai—gadis berkaca mata itu melempar ponselnya ke sembarang arah. Hingga saat ini ia masih tak mengerti mengapa dirinya belum bisa menganggap Yoko sebagai temannya. Entah itu karena sesuatu atau hal lain yang masih membuatnya ragu untuk mengakui Yoko adalah sahabatnya.

Apa itu? entahlah ia juga tidak tahu.

[09.45, Nakamura High School]

Seperti biasa jam pelajaran seperti ini sangatlah membosankan bagi Ai yang notabene adalah anak yang tidak suka belajar. Lebih baik ia menonton film sadako 24 jam nonstop dari pada harus berkutat dengan buku pelajaran dan semacamnya. Tapi ajaibnya ia selalu mendapatkan nilai tinggi di setiap mata pelajaran, sungguh menakjubkan.

Sungguh menggelikan jika anak seumurannya lebih suka menghabiskan masa muda dengan bermain ataupun melakukan hal-hal yang menyenagkan, Ai malah menyukai kesunyian dan lebih suka menyendiri tanpa adanya teman di sekelilingnya. Bagiamana dengan Yoko? Entahlah, gadis itu yang mulai mendekati Ai dan meminta Ai untuk menjalin pertemanan dengannya.

“Futaba Ai, setelah pelajaran usai kau ikut denganku ke ruang guru.”

Sial, selalu saja begini jika ia kedapatan tidur di saat jam pelajaran. Ai mendengus sambil melirik kesekelilingnya, seluruh teman sekelasnya tampak berusaha menahan tawa termasuk Yoko.

***

“Kau dapat teguran lagi?” tanya seorang wanita sambil menyodorkan segelas susu hangat pada Ai.

“Hmm.”sahut Ai singkat sambil menyesap susu hangat, lalu menaruh gelas itu dan kemudian beralih merogoh isi tasnya. Dengan santai ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil membaca komik edisi terbarunya.

“Ai, tolong rubahlah kebiasaan burukmu itu. Jangan buat reputasimu buruk di depan para guru dengan sikapmu itu.”

“Tenanglah, sifat burukku tidak akan memperngaruhi nilai-nilaiku.”

“Aku tahu itu, tapi…”

“Onni-chan, bisakah aku berhenti sekolah jika sikap burukku juga akan merusak reputasimu di sekolah ini?”

“Ai…”

Tanpa memperdulikan panggilan wanita itu, Ai melenggang ke luar ruangan sambil menyampirkan tas sekolahnya dan berlalu dari hadapan wanita yang kini hanya bisa menghela nafas keras.

***

Jam pelajaran telah usai, seluruh kelas tampak sepi dan hanya ada beberapa murid saja yang berlalu lalang di koridor kelas. Namun di balik koridor Nampak Yoko dan seorang laki-laki yang sedang berbincang-bincang serta di selingi tawa di tengah percakapan keduanya.

Namun, sesaat kemudian keduanya menghentikan percakapannya saat Ai melintas di depan mereka. Yoko dengan cepat menoleh dan memanggil Ai, sementara lelaki itu juga menoleh kearah yang sama.

Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk melewati koridor menuju pintu gedung sekolah. Ia sangat kesal mengingat percakapan terakhirnya dengan wanita itu. Tak hentinya ia mengumpat dalam hati. Sungguh menyebalkan. Pikirnya.

Di saat ia akan berbelok, langkahnya terhenti saat sebuah suara memanggil namanya. Suara yang taka sing di telinganya. Yoko.

Ai menoleh lalu kemudian menatap Yoko dan lelaki itu dengan tatapan datarnya. Seperti biasa, Yoko tak mempersalahkan sikap dingin temannya itu.

“Ada apa?” tanya Ai sesaat setelah Yoko menghampirinya.

“Aku ingin mentraktirmu makan mie ramen kesukaanmu, ini sebagai uangkapan terima kasihku karena kau sudah membantuku menyelesaikan tugas Reiko Sensei. Kau mau kan? Ayolah, ne, Ai-chan.”Yoko berusaha membujuk agar Ai menerima ajakannya. Selama ini Ai sangatlah susah untuk di ajak bermain atau sekedar jalan-jalan ke mall.

Ai diam sejenak. Sungguh, ia sangat malas berpergian dan bergelut dengan hingar binger suasana Tokyo yang ramai dan penuh sesak itu. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam kamar sambil membaca manga kesayangannya.

“Ai-chaaan?” Yoko berusaha merajuk. Sementara lelaki di samping Yoko hanya diam tanpa berusaha ikut campur. Pasalnya, ia tidak mengenal Ai karena ia adalah murid pindahan dan akan memulai kegiatan belajarnya esok hari.

Sementara itu Ai terlihat menimbang ajakan Yoko.

Sepertinya tak salahnya kali ini ia menerima ajakan Yoko. Lagi pula selama ini ia kan belum pernah merasakan hingar binger suasana mall seperti apa, kan? Baiklah, kali ini saja ia mau menerima tawaran gadis cantik di hadapannya itu.

“Wakata.”

Dengan senyum penuh kegirangan, Yoko dengan spontan memeluk Ai dan membuat Ai terkejut. Apakah seperti ini reaksi seseorang jika mengalami kesenangan? Entahlah, ia tak pernah merasakan hal seperti itu.

Oh ya, siapa laki-laki itu? Ia tak pernah melihatnya sebelumnya. Oh, mungkin karena ia jarang memperhatikan sekitar, jadi ia tak tahu menahu siapa lelaki di sampingnya itu. Ayolah, Ai tidak sebodoh itu untuk tidak mengenal setiap teman di sekolahnya, yah, meskipun ia terlihat pendiam dan kurang banyak bergaul.

***

Seperti inikah suasana mall yang sebenernya? Ramai, sesak, dan bising. Ya Tuhan, ia tak menyukai semua itu. Para gadis yang berlalu lalang tampak begitu trendy dengan fashion masa kini. Sementara dia sendiri? Oh, tidak. Semua itu terkesan jauh darinya, beda dengan Yoko yang lebih modis ketimbang dirinya di tunjang dengan wajah cantik nan kawainya. Sempurna.

Baiklah sekarang bukan waktunya untuk membanding-bandingkan. Yang penting sekarang adalah menjawab pertanyaan aneh dari Yoko “Apakah kau sudah punya pacar?”

Pacar? Hei, itu adalah sesuatu yang belum pernah terlintas di benak Ai. Memikirkannya saja ia enggan apalagi melirik laki-laki.

“Tidak ada.” Singkat namun jelas. Yah, memang itulah kenyataannya, ia sama sekali belum memiliki seorang KEKASIH. Ingat itu baik-baik.

Ai tak memperdulikan ocehan Yoko selanjutnya yang menghujaninya berbagai macam nasehat tentang ‘apakah kau ingin menjadi perawan tua?, ‘kau itu cantik, cobalah untuk melirik laki-laki yang kau sukai, ‘kalau kau mau, aku siap untuk membantumu’ , ‘Ai-chan, kau dengar tidak?’

Oh God! Bisakah gadis di depannya itu tidak membicarakan hal-hal tidak penting seperti itu. Ingin rasanya ia menyumpal mulut Yoko dengan kaos kaki dan menyuruhnya untuk berhenti mengoceh. Inilah yang membuat Ai tak ingin memiliki teman sampai kapanpun.

“Berisik!”gumam Ai sambil terus memakan kue di hadapannya, sementara Yoko terus saja mengeluarkan berbagai macam kalimat yang di layangkan untuk Ai. Sungguh menyebalkan.

“Tidak salahnya kau merubah gaya penampilanmu, Ai-chan?”

“Nani?”

***

Pukul delapan malam. Ternyata jalan-jalan ke pusat kota sangat melelahkan. Ia begitu kagum pada Yoko yang sangat menyukai suasana luar, yang menurutnya begitu menyebalkan. Melihat keramaian saja sudah membuatnya mual.

Yang di inginkan gadis itu sekarang adalah ‘cepat-cepat sampai rumah dan menikmati empuknya kasur kesayangannya’

Tunggu! Baru kali ini ia melihat mobil besar di depan rumahnya—tidak—lebih tepatnya disamping rumahnya. Sepengetahuan Ai, di sebelah rumahnya itu adalah rumah kosong yang sudah lama di tinggal penghuninya. Mungkinkah ada penghuni baru di rumah itu.

Ai melangkah lebih dekat sehingga ia dapat menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal. Reiko—kakak perempuannya. Dan oh, satu orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya—seorang lelaki—siap dia?

Dilihatnya Reiko sedang asyik berbincang dengan lelaki itu tanpa canggung. Sepertinya mereka sudah saling kenal, terlihat akrab. Andai ia seperti Reiko yang dengan mudah akrab dengan orang lain.

“Hei, Ai-chan. Okaeri.” Sapa Reiko sesaat setelah Ai memasuki gerbang rumah. Gadis itu menoleh lalu sedikit membungkuk membalas sapaan Reiko. Ia tak tersenyum—bahkan tak berniat tersenyum pada wanita itu. Entahlah, ia masih kesal dengan ucapan Reiko beberapa waktu lalu itu.

“Oh ya, mulai sekarang kita akan memiliki tentangg baru,Ai.” Ucap Reiko ramah.

Oh tentangga baru ternyata. Tidak ada yang perlu di rayakan, kan?

Ai mengangguk tanpa berniat menoleh kearah lelaki yang kini sedang memperhatikan keduanya. Ia bahkan tak ingin tahu bagaimana wajah tetangga barunya itu. Tentu saja, karena hal itu tak akan membuat sebuah keuntungan baginya.

“Hallo, Ai-chan.”

Suara berat lelaki itu terdengar nyaring di telinganya. Sebuah tangan terjulur manis di hadapannya. Gadis itu tertegun lalu perlahan menoleh kearah lelaki itu.

“Yamada Tooma. Yorosiku onegaisimasu.”

Gadis itu tertegun saat kedua matanya menangkap sebuah senyuman manis di wajah lelaki itu.

Astaga. Kenapa ini? Kenapa jantungnya seketika berdegup kencang seperti ini?”

Selama ini ia menutup diri untuk tidak menjalin sebuah hubungan dengan seorang laki-laki,jangankan untuk mengenal laki-laki, menatapnya saja ia enggan. Tapi sekarang, semua hal itu sirna seketika saat lelaki di hadapannya itu menjabat lembut tangannya.

Beginikah rasanya suka terhadap seseorang?

Advertisements

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s