Fanfiction, Oneshoot, Romance

WITH YOU

WITH-YOU

Title     : WITH YOU

Author: Redbaby

Cast     :

  • Byun Baekhyun (EXO K)
  • Lee Sunkyu (SNSD)

Length: Ficlet

Rating: General

**

Aku orang biasa sama seperti yang lain. Mempunyai kehidupan yang layak dan keluarga yang bahagia. Orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya. Tapi aku berbeda dengan kebanyakan orang, yang mempunyai kehidupan seperti itu.

Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku mendengar semua percakapan kedua orang tuaku yang mengatakan akulah penyebab kematian adikku malam itu. Semua itu terjadi dengan cepat, andai saja saat itu aku tidak lengah mungkin saja nyawa adikku tidak akan terenggut begitu saja. Aku tidak

mempermasalahkan mereka menyalahkanku atas kejadian yang menimpa adikku, aku mengerti perasaan mereka. Dan aku terima mereka memarahiku bahkan membenciku sekalipun. Tetapi apa yang mereka katakan saat itu sangatlah menyakitkan hatiku, bahkan menghancurkan seluruh rasa kasih sayangku pada mereka. Aku tidak menyangka bahwa aku ini bukanlah anak kandung mereka.

“Dia hanya pembawa sial bagi keluarga kita. Dia sama sekali tidak berguna.”

“Aku menyesal mengangkatnya sebagai anak kita.”

“Dia bukanlah anak kandung kita.”

Dia bukanlah anak kandung kita

Dia bukanlah anak kandung kita

Kata itu selalu terngiang di telingaku. Tanpa disadari air mataku menetes dengan bebasnya, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatku yang begitu menyedihkan. Pandanganku kabur akibat genagan air mataku, aku terus melangkah menyusuri jalan yang begitu ramai dengan para pejalan kaki dan juga setiap kendaraan yang berlalu lalang. Aku terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan orang-orang yang seperti memperingatiku, dan juga suara klakson mobil yang terdengar semakin mendekat kearahku.

Seketika aku merasakan tubuhku terlempar jauh ke tepi jalan. Apakah aku tertabrak? Tapi jika aku tertabrak, kenapa tubuhku tidak merasakan sakit sediktpun? Bahkan tidak ada luka apapun di tubuhku. Aku berusaha bangkit untuk berdiri, tetapi kepalaku terasa sakit dan sekarang pandanganku kabur. Sedekit kemudian semua pandangankupun gelap.

**

Aku berusaha membuka mataku, mengerjapkannya berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang ada. Apa sekarang aku sudah berada di surga? Seingatku, tadi aku terlempar akibat tertabrak mobil. Jika aku masih hidup, seharusnya aku berada dirumah sakit. Tetapi kenapa aku melihat langit yang begitu cerah?. Aku memegangi kepalaku yang terasa sakit, mungkin akibat benturan tadi. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru, aku terkesiap saat menyadari bahwa saat ini aku berada disebuah taman.

Kenapa aku bisa berada disini? Aku berada di sebuah bangku panjang yang terdapat ditaman ini. Siapa yang telah membawaku ke temapat ini?.

“Kau sudah sadar?”

Aku menoleh dan kulihat seorang pemuda mengenakan kaos putih dan juga celana hitam mendekatiku. Penampilannya begitu lusuh dan tangan kanannya terdapat luka yang terlihat cukup parah.

“Siapa kau?”

“Byun Baekhyun. kau bisa memanggilku Baekhyun.” Ujarnya sambil mengambil posisi duduk disampingku. Dan setelah itu ia menyodorkan sebotol air mineral padaku. Mengingat dari kemarin aku belum makan dan juga tenggorokanku terasa kering, akupun menerima minuman itu.

“Kenapa aku bisa ada disini? Bukannya tadi aku tertabrak mobil?”

“Aku menyelamatkanmu.” Jawabnya sambil tersenyum lebar. Aku tertegun dengan ucapannya itu, jadi pemuda ini yang menyelamatkanku. Aku memperhatikan pemuda bernama Baekhyun itu, senyumannya mengingatkanku pada adikku. Aku rindu padanya.

“Aku berhutang nyawa padamu.” Kataku dengan tersenyum. Sejurus kemudian pandanganku mengarah pada tangan kanannya yang terluka cukup parah. Dengan cepat aku merogoh tasku mengambil sapu tangan milikku. Setelah itu aku meraih tangannya dan langsung mengingat lenganngannya yang terluka agar darahnya berhenti keluar.

“Terima kasih”

“Aku yang seharusnya yang berterima kasih padamu. Karena kau telah menolongku.” Kataku “Oh, sebagai ganti karena kau menolongku. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang dan mentraktirmu makan?”

Seketika senyumannya memudar dan dia tertunduk lemas. Dia menggeleng. “Aku tidak punya rumah”

“Maksudmu?”

“Aku yatim piatu dan tidak punya tempat tinggal”

Aku terdiam. Seketika aku teringat akan kedua orang tuaku—kedua orang tua angkatku—ternyata ada yang lebih menyedihkan daripada keadaanku sekarang.

“Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?”. Tanyaku padanya. Ia tersenyum lebar yang membuatku mengernyitkan alis bingung. Kenapa dia?.

“Ijinkan aku ikut denganmu”

**

Saat ini aku sudah berada di depan rumah kedua orang tua angkatku. Sejujurnya aku sama sekali tak ingin kembali lagi kerumah ini setelah mendengar percakapan mereka saat itu. Aku tak tahu harus kemana lagi selain kembali kerumah ini lagi. Aku tidak mempunyai siapa-siapa selain mereka berdua—walau bukan keluarga kandungku. Aku menghela nafas berat, mengontrol rasa gugup yang medera diriku saat ini. Aku harus berusaha menerima kenyataan ini meskipun kenyataan ini begitu menyakitkan. Dengan ragu aku mengangkat tanganku untuk mengetuk pintu.

Ku rasakan pundakku terasa hangat. Kulihat tangan milik Baekhyun menepuk pelan pundakku, mengisyaratkan bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Ya, dia sudah mengetahui apa yang terjadi padaku karena aku sudah menceritakan semua padanya.

Aku terkesiap saat pintu itu terbuka, dan kulihat seorang wanita paruh baya yang merupakan ibuku—ibu angkatku—aku tersenyum kaku padanya. Berusaha memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Terlebih mengetahui bahwa aku bukanlah anak kandungnya.

Kulihat ia terkejut akan kehadiran Baekhyun. Air matanya menetes dan dengan sekejap ibu memeluk Baekhyun. Aku begitu terkejut dengan apa yang ibu lakukan, terlebih dengan Baekhyun dia tak kalah terkejutnya denganku.

“anakku”

**

Sudah dua bulan semenjak kejadian itu. Sikap kedua orang tuaku sama seperti dulu. Mengacuhkanku dan selalu membeda-bedakanku dengan Hyesun adikku, walau kini dia sudah tiada. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan mereka yang seperti itu. Hyesun lebih pintar dariku, nilai pelajarannya selalu memuaskan. Berbeda denganku yang lemah dalam setiap mata pelajaran.

“Apa kau tidak malu dengan Baekhyun? Nilainya semuanya di atas rata-rata dan tidak mengecewakan.” Kata ibuku sambil menyiapkan sarapan untuk Baekhyun “Tidak seperti kau, nilai pelajaranmu selalu mengecewakan. Sampai kapan kau akan bodoh seperti itu, huh?”

Aku hanya menunduk menahan amarah. Aku berusaha menahan diriku agar tidak menangis. Semenjak Baekhyun tinggal dirumah ini, ibu dan ayahku selalu memperhatiakan dan memberikan kasih sayang yang lebih pada Baekhyun. Ia menganggap Baekhyun layaknya anak mereka sendiri, karena Baekhyun begitu mirip dengan Hyesun dan itu mengingatkan mereka pada Hyesun. Kedua orang tuaku mengijinkan Baekhyun tinggal bersama kami sampai dia mendapatkan tempat tinggal. Sepulang sekolah Baekhyun bekerja paruh waktu di sebuah restoran milik teman ayahku, untuk membiayai sekolahnya dan sekaligus mengumpulkan uang untuk mencari tempat tinggal. Karena ia tidak ingin membebani kedua orang tuaku. Dan itu juga yang membuat mereka berdua salut dan juga menyayangi Baekhyun.

**

Hari-hari aku lalui dengan sikap ayah dan ibuku yang selalu menomor satukan Baekhyun dan tak pernah menganggap aku ada. Aku merasa keberadaanku tidak di harapkan di rumah ini. Apa salahku pada mereka sehingga mereka begitu membenciku? . Walaupun aku merasa kesepian, Baekhyun selalu ada disampingku untuk menghiburku dan selalu berusaha membuatku tertawa dengan lelucon yang ia buat.

“Sunkyu-ya…kenapa kau belum tidur?”

Aku menoleh ke arah Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berada dikamarku. Ia menghampiriku saat aku sedang berada di balkon kamarku. Ia tersenyum.

“Aku belum mengantuk. Kau sendiri?”

“Aku juga”

“Lantas, ada apa kau kemari?”

“Aku ingin menemanimu.” Jawabnya sambil tersenyum lembut padaku. Aku tertegun mendengar perkataannya, aku senang ia selalu menemaniku di saat aku merasa kesepian. Hari-hariku selalu aku habiskan bersama dengannya, dan pada akhirnya tanpa aku sadari aku mulai menyukainya.

“Kau begitu baik padaku. Aku tak tahu harus membalas semuanya dengan apa”

“kau tak usah membalasnya dengan apapun! Cukup hanya kau tersenyum, itu sudah cukup untukku.” Katanya sambil tersenyum lebar padaku. Akupun mengangguk dan membalas senyumannya.

“Aku akan selalu tersenyum untukmu.” Ujarku. Dia tertawa sambil mengacak pelan rambutku.

**

Kali ini aku bangun lebih pagi. Aku ingin membuatkan sarapan untuk ayah dan ibuku tentu saja untuk Baekhyun juga. Aku ingin memberikan kejutan untuk mereka pagi ini, aku ingin memperlihatkan kebolehanku dalam hal memasak. Ku lirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.30 dan itu berarti sebentar lagi mereka akan turun.

Baiklah. Semua hidangan sudah siap, sepertinya mereka sudah bangun. Ku lihat Baekhyun keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap dengan seragam sekolah. Aku tersenyum, dia begitu tampan dan sempurna. Kini ia berjalan menuju ruang makan dan mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Kau yang memasak semua ini?”

Ne

Selang beberapa menit kemudian ayah dan ibukupun keluar kamar dan langsung menuju meja makan. Mereka berdua terlihat bingung dengan adanya makanan yang telah tersaji. Aku harap mereka menyukainya. Tetapi semua itu hanya harapanku saja, tak ada ekspresi senang di wajah mereka saat mengetahui jika aku yang telah menyiapkan semua itu.

Aku hanya menyantap makanan yang ada dihadapanku dengan lemas, mestinya aku tidak melakukan ini semua untuk mereka, jika tanggapan mereka seperti itu.

Tiba-tiba Baekhyun terbatuk saat menyantap bulghogi buatanku. Dengan cepat ibu menghampiri Baekhyun untuk memberikan minuman, aku yang melihatnya terkejut. Aku lupa jika Baekhyun alergi makan makanan yang pedas.

“Apa yang kau lakukan, huh? kau ingin meracuni Baekhyun karena kau iri dengannya?” Bentak ayah padaku. Aku hanya terdiam. Aku bergegas mengambil tas dan langsung berlari keluar dengan air mata yang mengalir dengan derasnya. Hatiku begitu sakit. Kenapa ayah mempunyai pikiran seperti itu padaku?.

**

Semenjak keberadaan Baekhyun di rumahku, perhatian dan kasih sayang ibu dan ayah hanya tertuju padanya. Sementara aku selalu berusaha untuk selalu meneriama semuanya dengan ikhlas. Tak dapat dipungkiri jika aku merasa iri terhadap Baekhyun yang selalu bisa menarik perhatian orang tuaku. Mungkin bukan hanya rasa iri yang aku rasakan tetapi juga rasa benci yang amat besar pada Baekhyun. Maafkan aku.

Sudah dua minggu aku mengacuhkan Baekhyun setiap ia mengajakku bicara. Aku lebih memilih menghindarinya dan juga menjauh darinya. Entah apa yang merasuki diriku hingga aku begitu membecinya seperti saat ini.

Setiap pagipun aku selalu memilih untuk langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dulu. Aku tahu Baekhyun terlihat bingung dengan sikapku yang seperti ini. walaupun begitu dia selalu menaruh bekal makanan di laci mejaku. Aku hanya menatap bekal yang ia berikan dengan malas dan setelah itu aku memberikannya pada teman sebangkuku.

**

Satu bulan lagi ujian kelulusan untuk masuk universitas akan berlangsung. Kesempatan ini tidak akan aku buang begitu saja, aku ingin membuktikan pada ayah dan ibu bahwa aku tidaklah sebodoh seperti yang mereka kira. Aku bertekad untuk mendapatkan nilai di atas rata-rata dan tidak akan mengecewakan mereka berdua.

Setiap pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri ke perpustakaan untuk belajar. Aku benar-benar ingin memberikan yang terbaik kali ini. Tak terasa waktu sudah malam, aku mengelus perutku yang terasa lapar. Ku buka tas sekolahku berharap ada sesuatu yang bisa aku makan, mataku menyipit melihat kotak bekal berada di dalamnya. Pasti Baekhyun yang menaruhnya. Terdapat sebuah surat didalamnya.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::Jangan terlalu memakasakan diri! Ingat makan dan jaga kesehatanmu! Aku tidak ingin melihatmu sakit…FAIGHTING~::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tanpa disadari aku tersenyum setelah membaca surat tersebut. Setelah itu ku buka bekal pemberian Baekhyun dan langusung memakannya. Terima kasih Baekhyun~ah.

Semakin hari aku semakin giat belajar. Sepulang sekolah seperti biasa aku langsung menuju ke perpustakaan sampai malam hari menjelang. Buku-buku yang dulunya tak pernah sama sekali terjamah olehku kini menjadi teman yang selalu menemaniku. Sesampainya di rumah aku memilih untuk mengurung diri dikamar, melanjutkan kegiatan belajarku.

Sampai pada akhirnya aku selalu tertidur di atas meja belajarku. Saat bangun aku selalu mendapati selimut menutupi tubuhku. Apa Baekhyun yang selalu melakukannya? Ah, berbicara soal Baekhyun sudah dua minggu ini aku mengabaikannya. Aku merindukannya, tetapi itu bukanlah hal penting bagiku. Sekarang yang paling penting adalah lulus dan masuk ke universitas terbaik dengan nilai yang baik.

“Sunkyu-ya, bisa tidak kau tinggalkan kegiatan belajarmu itu?”

“Tidak bisa Baekhyun-ah!”

“Istirahatkanlah kepalamu itu, jangan terlalu dipaksakan untuk terus belajar! Aku ingin mengajakmu ke taman minggu ini”

“sudah ku bilang aku tidak bisa Baekhyun-ah. Kau masih tak mengerti juga?”

Tanpa sadar aku membentaknya begitu keras dan berjalan meninggalkannya yang terlihat terkejut dengan sikapku tadi. Aku tahu aku sudah keterlaluan padanya. Ini semua aku lakukan untuk orang tuaku.

**

Semenjak kejadia itu aku dan Baekhyun tak banyak bicara. Di rumahpun kami tak banyak bertegur sapa, yang biasanya paginya saat aku bangun tidur selalu ada selimut yang menyelimutiku, tapi tidak untuk kali ini. Sepulangnya dia dari bekerja ia memilih untuk langsung masuk ke kamarnya dan langsung tidur. Tak ada lagi Baekhyun yang selalu tersenyum manis kali ini.

Hari ini hari minggu. Waktu ku habiskan untuk belajar di perpustakaan sekolah. Aku lupa hari ini Baekhyun ingin mengajakku ke taman hanya sekedar jalan-jalan dan berkreasi. Tapi hal itu hanya membuang-buang waktuku saja, satu minggu lagi ujian akan berlangsung dan aku harus serius untuk itu.

Hari ujianpun tiba. kertas Soal sudah berada di depanku, dengan mantap aku mengerjakan soal-soal tersebut dengan tenang.

Tak sia-sia satu bulan ku habiskan untuk belajar. Akhirnya aku lulus dan masuk di universitas terbaik dengan nilai yang memuaskan. Tak ku sangka usaha untuk membuktikannya pada orang tuaku akhirnya berhasil. Ekspresi yang mereka tunjukan padaku sesuai dengan harapanku. Mereka akhirnya menerimaku, tak hanya itu kali ini mereka terlihat senang melihatku lulus dengan nilai terbaik. Dan yang paling mengejutkanku ialah kata maaf yang terlontar dari mulut mereka berdua. Aku merasa tak perlu memaafkan mereka, karena aku tak pernah membenci mereka ataupun marah pada mereka.

Terima kasih Baekhyun. Kau telah menyadarkan kedua orang tuaku, kini mereka dapat menerimaku dengan baik. Dan juga menyayangiku layaknya anak kandung mereka. Semua ini berkat Bekhyun, ia yang telah menjelaskan semuanya pada orang tuaku, jika selama ini aku telah berusaha demi mereka. Sampai akhirnya orang tuakupun tersadar.

Aku teringat akan Baekhyun. Aku harus mencarinya untuk mengucapkan terima kasihku padanya. Aku berlari menuju kamarnya berharap lelaki itu ada disana. Ku edarkan seluruh pandanganku ke penjuru kamar mencari sosok lelaki itu.

Nihil…sosok itu tak kunjung ku temukan. Sampai akhirnya aku menemukan secarik kertas di atas meja belajar miliknya. Terdapat tulisan tangan Baekhyun di sana.

::::::::::::::::::::::Annyeong, Sunkyu-ya^^ selamat untuk keberhasilanmu. Kau telah bekerja dengan baik demi memberikan yang terbaik bagi kedua orang tuamu. Aku sangat bahagia bisa mengenal gadis sepertimu. Kini giliran aku yang sepertinya harus berusaha untuk mendapatkan nilai yang baik untuk masuk universitas terbaik sepertimu. Kekekekeke~ maaf tidak memberitahukanmu sebelumnya jika aku memutuskan untuk tidak mengikuti ujian bersamamu. Sebenarnya aku ingin mengjakamu ke taman tempat pertama kali kita bertemu untuk merayakan keberhasilanmu. Tetapi aku harus pergi. Selama tidak aku, kau harus bisa jaga dirimu baik-baik, arra!

::::::::::::::::::::::::::::::::::Baekhyun

Seketika tubuhku lemas, kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku. Tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Baekhyun sudah pergi. Kini hidupku kembali sindiri, tak ada lagi sosok ceria itu untuk menghiburku.

Menyesalpun sudah tak ada gunanya lagi. Semuanya sudah terlambat. Aku merasa begitu bodoh selama ini karena telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu berarti bagiku.

**

Kini aku berada di taman tempat dimana pertemuan pertamaku dengan Baekhyun. Sudah dua tahun sejak kepergiannya aku selalu mengunjungi tempat ini, berharap sosok itu muncul kembali walau itu sangatlah mustahil. Kini ia berada jauh dariku, mungkin ia telah berbahagia dengan kedua orang tua barunya di jepang. Dan menemukan gadis yang menarik perhatiannya.

Tanpa sadar air mataku menetes membasahi pipiku, memori masa laluku dengannya terputar begitu saja bagaikan role film. Aku menyesal tak dapat menghabiskan waktu terakhirku dengannya.

Aku mengadahkan kepalaku menghadap langit yang tampak mendung sore itu, mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Dan benar saja dalam hitungan detik rintik-rintik air hujan membasahi wajahku. Merasakan setiap tetesan yang menyentuh kulit wajahku. Tangisku semakin menjadi seiring dengan hujan yang semakin deras membasahi bumi.

“Mana janjimu yang selalu kau katakan padaku?”

Aku berteriak sekeras mungkin berharap hatiku sedikit tenang.

“Kenapa kau meninggalkanku? Kau selalu bilang bahwa kau akan selalu menemaniku”

Konyol. Ya, aku merasa bodoh kali ini. Berharap lelaki itu medengarkanku.

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku. Tubuhku terasa hangat. Hembusan nafas seseorang begitu terasa di leherku.

“Aku tahu kau pasti kesini. Dan aku kembali untukmu”

Mataku membulat mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku. Dengan cepat aku memutar badanku menghadap Baekhyun yang kala itu tersenyum lebar. Akupun dengan cepat memeluk Baekhyun dengan erat, seolah tal ingin membiarkannya pergi lagi.

Saranghae

FIN

Advertisements

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s