Angst, Family, Fanfiction, Oneshoot

Eternity

Title                 : Eternity

Author             : Redbaby

Genre              : Family / Angst

Rating             : General

Cast                 : Byun Baekhyun (EXO K)

                        : Byun Jonghun (OC) a.k.a Baekhyun Brother’s

Other cast        : Tuan Byun (OC)

eternity

Disclamer        : FF ini aku buat semata-mata hanya untuk berpartisipasi event yang admin adakan. Oke, sebenarnya aku ga bisa buat FF ber-length ficlet apalagi pembuatan katanya maksimal 2000 kata yang sejujurnya aku lebih sering buat FF oneshoot dan FF series. Kalo aku buat cerita pendek pasti susah karena alur ceritanya selalu aku ga dapet fill. Oke, untuk readers yang bingung dengan FF ini, kalian bisa baca sedikit tentang sinopisnya di bawah. Karena aku takut wordsnya mencapai 2000-an lebih. Dan untuk terjemahan bahasa asing aku pekein note di bawah. Trims^^

**

Matahari yang begitu terik dan juga panas nan menyengat siang itu tak menyurutkan semangat dua anak laki-laki berlatih kung-fu. Dengan lihai keduanya meliuk-liukkan badan menyesuaikan gerakan yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun. Keringat mengucur deras di pelipis keduanya. Hentakan kaki mereka saling beradu satu sama lain.

Tak jauh dari tempat mereka berlatih, tampak seorang pria tua yang sedang mengawasi keduanya. Tatapannya begitu tajam dan juga terlihat tegas.

“YA! Baekhyun-ah! Kenapa kau berhenti, huh?” teriak pria bermarga Byun itu saat melihat lelaki bernama Baekhyun itu menunduk seraya kedua tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan. Di usapnya keringat yang membasahi wajahnya menggunakan lengan kirinya.

“Maaf guru, aku lelah” lirihnya seraya melirik pria yang ia panggil guru sekaligus ayahnya.

Tuan Byun mendekati lelaki itu dengan tatapan kesal, dan kemudian menoyor kepala Baekhyun kasar. “Apa kau bilang? Lelah? Kalau kau lelah, kau tak akan mendapatkan uang sepeserpun. Mengerti!”

Baekhyun hanya menunduk seraya mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat jitakan ayahnya. Ia tak berani menatap wajah pria tua itu jika sedang marah seperti itu. Dengan terpaksa dia melanjutkan latihannya, sementara lelaki yang satunya melirik Baekhyun dengan tersenyum sinis.

**

Baekhyun duduk seraya meregangkan semua ototnya yang terasa pegal. berlatih seharian membuat semua badannya terasa remuk. setelah itu di raihnya kalender di atas nakas dekat tempat ridurnya dan memeperhatikan sebuah tanggal yang merupakan hari special bagi seseorang yang ia sayangi dan juga ia hormati. Kemudian di lingkarinya tanggal tersebut—11 januari. Seulas senyum terukir di wajahnya seraya melirik seseorang yang tengah tertidur pulas.

Hyung…kita harus terus bekerja keras.” Lirihnya pada lelaki yang ia sebut Hyung itu. Sementara itu lelaki yang bernama Jonghun itu menggeliat seraya membalikkan posisi tidurnya, membelakangi Baekhyun.

“Baekhyun-ah!.” Teriak ayahnya dari luar memanggil Baekhyun. Dengan cepat Baekhyun menghampiri ayahnya yang saat itu berada di ruang keluarga.

“Ada apa guru?” ucap Baekhyun setelah tiba di ruang keluarga. Tuan Byun menoleh. Tatapannya tetap tegas sperti biasanya, dan itu membuat Baekhyun takut menatap wajahnya dan memilih untuk selalu menunduk saat berhadapan dengan ayahnya.

“Aku lapar. Buatkan aku makanan!”

“B…Baik guru.” Baekhyun mengangguk menuruti perintah ayahnya dan kemudian langsung menuju dapur membuatkan makanan untuk pria itu.

Tak lama iapun kembali membawa semangkuk ramyun untuk ayahnya.

“Silahkan guru!” ucap baekhyun mempersilahkan ayahnya menyantap ramyun buatannya.

Tetapi saat suapan pertama, tiba-tiba pria itu menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya. Sontak membuat Baekhyun terkejut, ia takut bahwa makannya kali ini tidak enak dan membuat ayahnya marah.

“Ramyun apa ini? kenapa pedas sekali?” ucap tuan Byun sarkatis dan kemudian berdiri seraya melempar sumpit itu kasar.

Baekhyun semakin menunduk seraya meremas ujung bajunya karena ketakutan. Ia takut ayahnya akan memukulnya seperti dua minggu yang lalu, dengan kesalahan yang sama seperti saat ini. Baekhyun lupa jika ayahnya tidak suka makan makanan yang pedas, di samping itu juga ayahnya mempunyai penyakit alergi terhadap makanan pedas.

“M…maaf guru, aku lupa jika guru alergi makanan pedas.” Ucap Bakhyun dengan ragu seraya tetap menundukkan kepala.

“Ini sudah kedua kalinya kau membuat kesalahan!” bentak tuan Byun. Kemudian menepis kasar mangkuk berisi ramyun itu sehingga jatuh ke lantai. Tuan Byun tampak begitu emosi.

Sontak Baekhyun berjengit karena terkejut.

“Kemarikan tanganmu!” perintah tuan Byun.

Sesuatu yang ia takuti akhirnya terjadi juga, dengan ragu Baekhyun merentangkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka. Ia menutup kedua matanya seraya menunduk, tak sanggup melihat apa yang akan ayahnya lakukan.

Plaakk Plaakk

Suara sabetan dari batang bambu yang sedikit tebal terus menyentuh telapak tangan Baekhyun dengan kasar. Baekhyun menggigit bibirnya kuat menahan sakit pada tangannya.

‘Guru, kumohon hentikan’ pintanya dalam hati. Tetapi itu tak mampu didengar olehnya ayahnya yang terus menerus memukul kedua tangannya menggunakan potongan bambu.

Dari balik pintu kamar seseorang memperhatikan apa yang telah terjadi. Tatapannya datar dan sulit di artikan. Antara sedih, prihatin, kesal, dan juga senang semuanya campur menjadi satu. Orang itu mendengus “Dasar laki-laki bodoh.”

**

Baekhyun berjalan menuju halaman sekolah dengan gontai sembari memegangi kedua tangannya yang tampak memerah akibat pukulan yang ia terima dari ayahnya tadi malam. Kedua tangannya terasa mati rasa akibat rasa sakit yang tak kunjung hilang.

“Baekhyun-ah!”

Baekhyun menoleh ketika seseorang memanggilnya. Tiba-tiba dengan sigap Baekhyun menangkap sebuah tas yang di lemparkan oleh seseran yang memanggilnya. “Bawakan tasku ke kelas!”

Baekhyun meringis kesakitan akibat menangkap tas yang isinya lumayan berat, di tambah lagi dengan rasa sakit di tangannya.

“Kenapa kau?”

“Ah, tidak kenapa-kenapa hyung.” Jawab Baekhyun gugup.

Jonghun menghampiri Baekhyun dengan tatapan menyelidik. Kemudian ia merampas tas yang tadi sempat ia lemparkan pada Baekhyun, setelah itu meraih kedua tangan lelaki itu. Jonghun mendengus saat melihat telapak tangan adiknya itu memar.

“Kau benar-benar lemah dan BODOH.” Ucap Jonghun dengan nada meninggi di akhir kata yang ia lontarkan. Sementara Baekhyun hanya diam, dalam hati ia membenarkan apa yang hyungnya katakan. Dirnya memang lemah dan bodoh.

“Sampai kapan kau akan lemah seperti itu, huh?” Jonghun menatap Baekhyun tajam “Walaupun dia ayah kita, tak seharusnya dia memperlakukan anaknya seperti ini! Apa kau tak pernah berfikir selama ini dia sudah keterlaluan!” Ujar Jonghun dengan nada meninggi. Perasaan sedih dan juga kecewa bercampur aduk di hatinya. Ia kecewa dengan sikap ayahnya yang selama ini sudah keterlaluan pada adiknya. Di sisi lain hatinya begotu tertohok sebagai kakak yang tak bisa menjaga adiknya, diamana ia juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti Baekhyun.

“Aku memang lemah dan bodoh hyung. Tapi aku tahu di balik sifat guru yang keras dia adalah seorang ayah yang sangat baik dan menyayangi kita.” Lirih Baekhyun. Ia juga merasakan apa yang Jonghun rasakan. Sakit, kecewa, dan juga sedih. Tapi ia tak boleh lemah di hadapan kakaknya.

“Aku tak pernah merasakan bahwa guru menyayangi kita.” Kata Jonghun dengan penekanan di setiap katanya. Dan kemudian ia melangkah meninggalkan Baekhyun yang saat itu hanya diam dan menunduk. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tak jatuh seraya mengepalkan kedua tangannya menahan semua perasaan yang ada di hatinya.

**

“Tuan, mari saya bawakan barang-barangnya!” tawar Baekhyun pada seorang pria yang sedang membawa belanjaan dengan tas berukuran. Sepertinya belanjaannya begitu banyak.

Dengan menahan rasa sakit di tangannya yang belum juga pulih, ia berusaha membawakan barang-barang setiap orang yang ada di pasar tempatnya berada sekarang.

Kamshamnida” ucap Baekhyun seraya membungkuk hormat.

Kini uang 1000 won berada di tangannya. Seulas senyum terukir di wajahnya, sedikit lagi semuanya akan terkumpul. Dengan cepat ia memasukkan uang yang telah ia dapat dari usahanya membantu membawakan barang bawaan setiap orang di pasar itu.

Tanpa lelaki itu sadari, seseorang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Tatapannya seakan-akan meremehkan dengan senyum sinis di wajahnya.

“Untuk apa kau melakukan semua itu, bodoh.” Desis orang itu, kemudian berlalu dari tempatnya berpijak.

**

“Jonghun! Kemana Baekhyun? Kenapa dia belum pulang? Apa dia lupa kalau hari ini waktunya latihan?” tanya tuan Byun pada Jonghun yang sedang merapikan tongkat-tongkat yang akan di gunakan untuk latihan. Seketika ia menghentikan aktifitasnya saat ayahnya menanyakan keberadaan Baekhyun.

Dengan ragu Jonghun membalikkan badan menatap ayahnya. Dengan gugup iapun menjawab pertanyaan ayahnya. “Baekhyun sedang ada jam pelajaran tambahan di sekolah, guru. Tadi dia berpesan padaku untuk memberitahu guru.” Jonghun terpaksa berbohong pada ayahnya mengenai Baekhyun yang siang itu belum pulang. Ia terpaksa melakukan itu karena ia tak mau adiknya mendapatkan hukuman lagi dari ayahnya.

“Apa selama empat hari ini dia terus mendapatkan pelajaran tambahan? Apa dia lupa tiga hari lagi kita akan akan pentas?” tanya ayahnya sarkatis.

Jonghun terperanjat dan takut kebohongannya mengenai Baekhyun di ketahui oleh ayahnya. Dalam hati ia terus merutuki adiknya yang begitu bodoh.

“A…aku tidak bohong guru”

Selama empat hari Baekhyun selalu pulang terlambat bahkan pulang sampai larut malam. Tanpa sepengetahuan ayahnya ia masuk ke dalam rumah melalui jendela kamarnya secara diam-diam. Kalau tidak, ia akan mendapatkan hukuman yang lebih parah dibandingkan hukuman yang selama ini ia dapatkan.

Sementara Jonghun dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan Baekhyun untuk membantunya tidak memberitahukan apa yang selam ini ia lakukan. Jujur saja, Jonghun sangat tidak menyetujui apa yang telah Baekhyun lakukan. Karena semua itu hanya akan sia-sia saja. Tetapi Baekhyun selalu membujuk dirinya dan pada akhirya ia harus mengiyakan permintaan adiknya. Berbohong pada ayahnya mengenai apa yang telah Baekhyun lakukan di luar sana.

Di keluarkannya uang yang telah ia dapatkan dari mengantar barang hari ini dari sakunya. Kemudian di raihnya celengan berbentuk tabung itu dari lemari. Dengan perasaan senang dan juga puas ia memasukkan lembar demi lembar uang tersebut ke dalam celengan miliknya. Sepertinya semuanya sudah cukup untuk membeli benda yang ia lihat di toko tempo hari.

Tuan Byun hendak menuju dapur karena haus, tetapi langkahnya terhenti saat melewati kamar Jonghun dan Baekhyun yang kala itu pintu kamarnya tidak tertutup. Mata Tuan Byun menyipit saat melihat Baekhyun menghitung lembaran uang. Seketika air mata tuan Byun mengeras dan kemudian berlalu meninggalkan kamar itu dengan langkah pincang.

**

Hari ini Baekhyun memutuskan untuk tidak kepasar, karena menurutnya uang yang sudah ia dapatkan cukup untuk membeli benda itu. Hari ini ia memutuskan untuk berlatih bersama kakaknya untuk pertunjuka besok.

Dengan langkah ringan ia masuk menuju . Tetapi saat melewati ruang tengah, tiba-tiba sesuatu mendarat tepat di depan kakinya. Seketika matanya melebar melihat benda yang taka sing baginya. Kenapa celengannya bisa ada disini? Ia lantas memungut benda tersebut.

“Selama ini kau berani membohongiku Byun Baekhyun!” suara berat yang tak asing baginya terdengar jelas di telinganya. Iapun terkejut dan dengan cepat menoleh kearah sumber suara. Matanya melebar mengetahui ayahnya sudah berada di hadapannya dengan tatapan tajam dan penuh emosi.

“Dari mana kau mendapatkan uang sebanya itu? Apa selama ini kau mencuri, huh?”

“A…aku tidak mencuri guru”

“Selama ini kau dan Jonghun telah membohongiku! Sejak kapan aku mengajarimu untuk mencuri, huh?” kini kemarahan ayahnya tak dapat dibendung lagi. Wajahnya mengeras dan telihat menakutkan.

“A..aku tidak bohong gu—“

Seketika tubuhnya terpelanting membentur tembok karena tendangan ayahnya yang begitu keras. Baekhyun meringis kesakitan saat punggungnya membentur tembok begitu keras.

“Aku benar-benar menyesal mempunyai anak sepertimu”

Kini Baekhyun harus menahan sakit yang amat menyakitkan karena ayahnya memukul punggungnya dengan cara mencambuk. Tanpa ampun ayahnya terus melayangkan pukulan menggunakan bambu yang di iris tipis pada punggung Baekhyun.

Baekhyun terus merintih kesakitan seraya memejamkan kedua matanya dan menggigit bibirnya kuat. Kenapa ayahnya begitu kejam padanya? Sebulir cairan bening keluar dari matanya. Ia benar-benar tak kuat menahan pukulan dari ayahnya.

Jonghun yang melihat adiknya di pukul seperti itu dengan cepat berlari ke arah mereka berdua. Dengan sigap tangannya menghentikan tangan ayahnya untuk memukul Baekhyun.

“Guru! Hentikan!” teriak Jonghun seraya berusaha menahan tangan ayahnya.

“Kau sungguh keterlaluan guru! Baekhyun tidak mencuri, dia bekerja di pasar hanya untuk membelikanmu hadiah pada saat ulang tahunmu!” kini Jonghun benar-benar murka. Sebulir air mata menetes membasahi pipinya. “Kau ayah yang kejam.”

Mendengar semua itu ayahnya hanya diam seraya menahan emosinya dan mengatur nafasnya. Sementara Baekhyun berusaha berdiri seraya menahan sakit. Sungguh menyakitkan.

**

Hari pertunjukan teater akhirnya tiba. Semuanya telah bersiap-siap mengatur posisi, beberapa anak muda dari desa itu telah berkumpul di depan panggung. Alat-alat music telah di siapkan, tiga orang berperan sebagai monyet sebagai teman sun go kong yang di perankan oleh Baekhyun sementara Jonghun berperan sebagai cut pat kai sahabat sun go kong.

Penduduk desa sudah berkumpul untuk menyaksikan teater kecil tersebut. Kini musicpun telah di bunyikan bertanda pertunjukan di mulai. Semua menjalankan sesuai dengan naskah yang di siapakan oleh tuan Byun selaku ketua teater.

Pertunjukan yang begitu indah, semua orang bertepuk tangan saat menyaksikan pertunjukan tersebut. Termasuk tuan Byun yang puas melihat semuanya berjalan lancar.

Kini giliran Baekhyun yang harus melakukan gerakan somersault (koprol) sementara satu orang bertugas meutarkan tongkat mengikuti gerakan yang akan Baekhyun lakukan. Dengan lihai Baekhyun melakukan gerakan tersebut dengan sangat bagus. Gerakan tersebut hanya di lakukan selam tiga kali.

Tetapi…

1 menit

10 menit

15 menit

Baekhyun tak berhenti melakukan gerakan tersebut. Seluruh penonton bertepuk tangan menyaksikan aksi Baekhyun yang begitu hebat. Tetapi tidak dengan para pemain terutama Jonghun dan juga ayahnya. Mereka begitu cemas dan khawatir, terlebih luka pada punggung lelaki itu belum pulih. Jonghun takut terjadi apa-apa pada adiknya itu.

“Baekhyun-ah…” lirih semua pemain termasuk Jonghun.

“Baekhyun-ah hentikan!” teriak tuan Byun, tetapi tak ada respon dari Baekhyun yang malah terus melakukan gerakan tersebut. Sejujurnya Baekhyun begitu lelah menahan rasa sakit pada tubuhnya terlebih menahan sakit di hatinya. Ia melakukan ini semua agar ayahnya sadar betapa ia menyayangi dirinya. Tanpa semua orang sadari, lelaki itu menangis tanpa henti.

Semua orang terdiam dan kini mereka terlihat khawatir pada lelaki itu, sudah dua puluh menit lamanya ia melakukan gerakan itu.

Semakin lama gerakan Baekhyun semakin melemah. Jonghun dan juga ayahnya sangat cemas. Ada rasa bersalah di rasakan oleh ayahnya. Lebih tepatnya menyesal dengan apa yang di lakukannya pada Baekhyun kemarin.

BRUUKKK

Tiba-tiba Baekhyun ambruk. Dengan sisa tenaga yang ia miliki dan juga nafas yang tersengal-sengal ia berusaha melanjutkannya. Tetapi sayang tenaganya telah habis dan akhirnya ia kembali ambruk dan tak sadarkan diri.

“BAEKHYUUNN!”

**

Kini keadaan Baekhyun berangsur-angsur pulih. Luka pada punggungnya telah mongering sejak di rawat di rumah sakit satu minggu yang lalu.

Ada rasa bahagia di hati Baekhyun melihat ayahnya yang kini dapat tertawa lagi, setelah beberapa tahun ayahnya tidak pernah tertawa lepas seperti saat ini, semua itu semenjak kematian ibunya. Dan kini ayahnya dapat berjalan dengan baik dengan alat bantuan berupa tongkat elbow firstmed pemberiannya.

Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya dan juga kasih sayang anak terhadap orang tuanya merupakan keabadian yang tak pernah lekang oleh waktu.

FIN

Note :

Kamshamnida                         : terima kasih.

Kung-fu                                  : seni bela diri yang berasal dari tiongkok.

Tongkat elbow firstmed          : sebuah tongkat penyangga yang di gunakan dengan cara menopang telapak tangan untuk membatu berjalan bagi kaki yang mengalami lumpuh.

Sun go kong                            : seekor monyet dalam legenda film china ( BUDHA ).

Cut pat kai                              : sahabat sun go kong dalam legenda tersebut.

Hyung                                     : kakak laki-laki.

Sinopsis :

Disini Baekhyun berasala dari keluarga keturuan China. Dimana marga Baekhyun tetap Byun karena ayahnya berasal dari korea tetapi menikah dengan wanita dari China. Nenek Baekhyun berasal dari China dan kekeknya berasal dari korea oleh karena itu marganya tetap Byun. Dicerita ini Baekhyun belajar kungfu sejak berumur lima tahun dan ia juga mempunyai kakak bernama Jonghun yang juga berlatih kungfu sejak usianya masih berlia. Kakanya selalu membully Baekhyun tetapi dia sangat menyayangi adiknya. Sementara ayahnya merupakan guru kungfu di china meneruskan generasi ayannya. Tetapi ia memutuskan untuk pindah ke korea untuk mencari kehidupan yang baru. Dan pada akhirnya bertemu dengan seorang wanita dan menjadi ibu dari Baekhyun dan Jonghun. Di korea ayah Baekhyun mencari nafkah dengan mendirikan teater drama kecil di desanya yang selalu di adakan setiap akhir pekan, dengan memadukan gerakan kungfu.

Keluarga Baekhyun turun temurun mewarisi ilmu kungfu dan pada akhirnya turun ke Baekhyun dan juga kakaknya. Mereka berdua selalu berlatih dengan keras agar dapat menyuguhkan pertunjukan yang memuaskan bagi penonton, dan mendapatkan uang untuk keperluan sehari-hari. Suatu ketika sampai akhirnya sebuah kecelakaan menimpa ayah dan juga ibunya. Dimana nyawa ibunya tak dapat terselamatkan akibat kecelakaan mobil. Sementara ayahnya harus menderita lumpuh pada kaki kirinya, dan itu membuat dirinya tak bisa lagi melatih ilmu kungfu pada murid-muridnya. Hanya Baekhyun dan juga Jonghun yang dapat ia ajari. Kekejaman ayahnya di mulai semenjak kematian ibunya. ayahnya begitu frustasi kehilangan wanita yang ia cintai. Baekhyun dan juga Jonghun selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Walaupun begitu tak ada sedikitpun Baekhyun dan juga Jonghun membenci ayahnya.

Oke, segitu aja sinopsisnya agar para readers tidak bingung, yah walaupun aku tidak menjamin kalian akan suka dengan ceritanya,,hehehehehe

Aku ga berharap menang atau kalah. Yang penting aku bisa ikut berpartisipasi dalam event ini,,,hahahahha

Gomawo^^

Advertisements

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s