Angst, Fanfiction, Oneshoot, Romance

FORGIVE ME FOR LOVE YOU

 New Picture (36)

Title                       : FORGIVE ME FOR LOVE YOU

Author                  : Redbaby

Cast                       : Kim Ju Na (OC)

                                Oh Sehun (EXO K)

                                Baek Yoojun (OC)

Genre                   : Angst, Romance

Rating                   : Teenagers

Length                  : Oneshoot

~***~

Salahkan jika aku mencintaimu?

Salahkan jika rasa cinta ini muncul untukmu?

Segitu bencikah kau padaku karena perasaan ini?

~***~

 

BRUUKK

Gadis itu tersungkur mana kala tubuh mungilnya membentur tembok karena seorang gadis berambut pirang telah membanting dirinya hingga punggungnya terasa amat sakit, kini wajahnya terdapat sedikit lebam akibat tamparan dari gadis berambut pirang tersebut. Ia berusaha untuk bangkit tetapi tenaganya sudah habis.

“kau pikir kau itu hebat, huh?” ucap seorang gadis yang berambut pendek dengan mencengkram kerah baju gadis itu.

“Kim Ju – Na…” ucapnya lagi seraya membaca namtage milik gadis itu dengan seyum sinis ke arah gadis yang bernama Ju Na tersebut, sedangkan gadis itu hanya diam dan ia enggan untuk melihat wajah gadis abal-abal yang kini mencengkram kuat kerah bajunya itu.

“apa mau kalian, huh?” ucapnya dengan memicingkan bola matanya melirik gadis berambut pendek yang bernama Ah Sera itu dan juga tersenyum sinis kepada gadis itu. kini Ju Na membuka mulutnya yang sedari tadi ia hanya diam tidak membalas hinaan-hinaan dan perlakuan dari tiga gadis yang telah membully-nya tersebut.

“aku mau kau mundur dari turnamen olimpiade minggu depan” kini gadis yang bertubuh tinggi menarik dan mencengkran kerah baju milik Ju Na yang tadi sempat di cengkram oleh gadis yang bernama Sera tersebut.

“cih…memang kau siapa menyuruhku mundur dari olimpiade itu, huh?”

PLAAKK

Dengan mulus tamparan yang begitu keras mendarat di pipinya sehingga membuatnya terhuyung ke samping. Dari sudut bibirnya keluar darah segar akibat tamparan itu, di hapusnya sudut bibirnya dengan ibu jarinya dan setelah itu di tolehkannya kepalanya kea rah tiga gadis yang berdiri di hadapannya dengan melipat kedua tangan mereka di depan dada. Kini kesabarannya sudah habis atas perlakuan mereka padanya dan berniat untuk membalas dan melawan tiga gadis itu, tetapi dengan terpaksa niatnya terhenti saat suara langkah dari luar kelas tempat mereka ber empat sekarang.

“apa ada orang di dalam?”

Ke tiga gadis itu dan juga Ju Na menoleh kea rah pintu kelas yang sebentar lagi akan terbuka. Ketiga gadis itu terlihat panic karena takut mereka akan ketahuan membully Ju Na hari itu.

“sial…” umpatnya kesal.

Tidak mau perbuatan mereka ketahuan secepat kilat ketiga gadis itu menyeret Ju Na ke bawah kolong meja dan bersembunyi di lorong deretan meja-meja di kelas itu.

Sementara itu seorang laki-laki yang notabene adalah seorang satpam sekolah itu menyembulkan kepalanya saat membuka ruang kelas itu dan memperhatikan setiap sudut ruangan, apakah ada orang atau tidak karena saat ia melewati kelas itu ia mendengar suara gaduh dari dalam dan karena penasaran satpam itupun memutuskan untuk melihat ke adaan di dalam.

Tetapi selang beberapa menit satpam itu tidak menemukan apapun di dalam kelas tersebut karena yang di lihatnya ruangan itu kosong tidak ada tanda-tanda siswa yang masih ada di dalam kelas.

“mungkin hanya perasaanku saja” gumamnya pelan dan menutup pintu kelas tersebut dan melangkah pergi.

Setelah mengetahui satpam itu sudah pergi dari sana ketiga gadis itupun keluar dari persembunyiannya di sertai dengan nafas lega dari mereka karena hampir saja mereka dipergoki telah membully Ju Na.

“kali ini kau selamat tapi lain kali tidak akan” ancam Sera seraya menoyor kepala Ju Na. Ketiga gadis itupun memutuskan untuk pergi dari kelas itu dan pulang meninggalkan Ju Na yang sudah tidak berdaya.

Sekuat tenaga ia berdiri agar bisa keluar dari kelas itu dan segera pulang ke rumah. Kini Ju Na sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah yang untungnya gerbang kala itu belum terkunci sehingga ia bisa untuk keluar dan segera pulang. Dengan langkah yang tertatih Ju Na melangkahkan kakinya menyusuri jalan seraya tangannya memegangi perutnya yang entah sejak kapan terasa amat sakit.

Seketika gadis itu menghentikan langkahnya, ada sesuatu yang di lupakan olehnya dengan sigap tangannya merogoh tas sekolahnya mencari sesuatu di dalamnya setelah menemukan benda yang di cari gadis itupun membuka ponsel yang sedari tadi belum pernah di bukanya. Sudah di duga ada lima puluh panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan yang belum terbuka. Gadis itupun mendesah pelan dan menekan angka yang sudah di hafalnya di luar kepala.

“y…yeoboseyo” ucapnya ragu…bukan…lebih tepatnya gadis itu terlihat sangat ketakutan saat panggilannya terjawab.

“YA! Kau kemana saja, huh? Sudah berkali-kali aku menghubungimu kau malah tak menjawab telepon dariku. Kau tahu aku sangat menghawatirkanmu Ju Na-ya” bentak seseorang di seberang telepon tersebut, sehingga membuat Ju Na semakin takut.

“m…ma..maafkan aku” jawabnya pelan dengan terbata-bata.

“kalau sampai oemma dan appa tahu mereka bisa marah besar padamu karena jam segini kau belum juga pulang sejak jam sekolahmu selesai! Sekarang kau ada dimana?”

“tadi aku ada pelajaran tambahan di sekolah karena itu aku terlambat pulang” ucapnya bohong karena ia tidak mau siapapun tahu kalau ia di bully oleh teman sekolahnya…ah, lebih tepatnya tiga gadis abal-abal itu. “maafkan aku sudah membuatmu khawatir, aku akan segera pulang oppa”

Setelah percakapan mereka selesai Ju Na pun memutuskan sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya.

~Ju Na POV~

Aku terpaksa berbohong pada oppaku karena aku tidak ingin dia tahu keadaanku sekarang kalau dia sampai tahu aku di bully oleh mereka, aku tidak bisa menjamin umur mereka akan panjang. Kalian tahu ini bukan pertama kalinya aku di bully oleh mereka, bayangkan sudah tiga tahun aku mendapat perlakuan kasar dari mereka itu di sebabkan salah satu dari mereka yang bernama Ah Sera merasa tersaingi olehku karena nilaiku selalu berada di atasnya dan dia selalu berada di bawahku, bukan hanya itu saja dalam persaingan merebut posisi sebagai ketua osis akulah yang memenangkannya sedangkan dia menjadi wakilku itulah yang membuatnya selalu bertindak kasar padaku dan tidak tanggung-tanggung dia bahkan sampai mengurungku di dalam gudang sekolah seharian dan dengan usahaku aku berhasil kabur dari gudang tempat ia mengurungku.

Dan puncak kebencianya padaku saat satu bulan yang lalu ia tidak lolos untuk mengikuti olimpiade sains yang akan di adakan minggu depan di jepang. Aku tahu itu adalah impian terbesarnya selama ini ia benar-benar ingin mengikuti olimpiade itu dan bisa mengharumkan nama sekolah, tetapi aku tidak menyangka bahwa akulah yang lolos untuk mengikutinya. Kalau boleh jujur aku ingin ia menggantikan posisiku untuk mengikuti olimpiade itu karena aku tidak ingin membuatnya terus-terusan membully ku seperti ini, tetapi hal itu tidak mungkin terjadi keputusan juri waktu itu tidak bisa di ganggu gugat. Juru aku lelah seperti ini terus.

~At home~

“oppa aku pulang” seruku saat membuka pintu seraya melepaskan sepatuku dan meletakkannya di rak sepatu dekat dengan pintu masuk rumah. Di rumah hanya ada aku dan oppa saja karena ayah dan ibuku sedang berada di luar kota untuk beberapa minggu ke depan karena urusan pekerjaan dan itu membuatku sangat merindukan mereka.

Saat aku akan menaiki tangga menuju kamarku aku sedikit terkejut ketika oppaku Oh Sehun berada di hadapanku dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Tatapan matanya sangat tajam aku tahu ia pasti marah padaku, akupun menundukkan kepala karena aku takut melihatnya marah seperti itu.

“apa benar kau ada pelajaran tambahan?”tanyanya curiga padaku.

“………”

Aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku takut ia akan tahu semuanya yang aku lakukan saat ini hanyalah diam dan menundukkan kepala seraya kedua tanganku menggenggam erat gantungan tas ranselku (?).

“Kenapa diam?” tanyanya lagi yang kini terdengar sangat menakutkan di telingaku.

“a…a…aku”

Aiiissshhh! Aku benar-benar tak tahu harus menjawab apa sampai-sampai aku mengeluarkan keringat dingin.

“lihat aku!”

Oh…ayolah menjawab saja aku takut apalagi melihatnya oh tuhan tolong aku, aku benar-benar taku melihatnya marah seperti itu.

“aku bilang lihat aku!”

Dengan ragu akupun memberanikan diri melihatnya dan saat mataku sudah menatap wajahnya….

DEG

Jantungku berdegup kecang saat wajahnya yang semakin mendekat padaku, astaga ada apa denganku kenapa jantungku berdetak tak karuan seperti ini dan sekarang wajahku memanas. Apa yang terjadi padaku? Kenapa setiap aku berada di dekat oppa perasaanku seperti ini?

Kini wajahnya berada hanya berberapa senti dengan wajahku, aku bisa melihat wajahnya yang tampan dan kulit putih mulusnya. Apa yang kau pikirkan Kim ju Na? dia itu kakakmu. Aku benar-benar tidak bisa berkutik saat ini dan rasa gugup terus menyerangku. Astaga…kenapa wajahnya semakin dekat?. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh sudut bibirku.

“darah”

Aku sangat terkejut saat dia melihat ada darah di sudut bibirku dengan sigap tanganku menepis tangannya yang menyentuh sudut bibirku. “eh…ta…tadi aku jatuh di toilet dan bibirku membentur lantai” jawabku asal. Asiiihh…alasan macam apa itu? Sangat tidak masuk di akal, dasar Ju Na bodoh.

“jangan berbohong Ju Na-ya”

“a…aku tidak berbohong oppa”

“kau sama sekali tidak pandai berbohong Ju Na! dasar bodoh”

Kini tanganku di tarik olehnya dan membawaku ke ruang keluarga dan ia menyuruhku duduk di sofa sedangkan ia mengambil kotak p3k yang berada di dapur.

“akkhh” rintihku saat oppa membersihkan lukaku dan rasa gugup itu kembali menyerangku dan detak jantungku kembali tidak beraturan, saat tangannya menyentuh kulit wajahku dan bibirku.

“kau di bully oleh temanmu”?

Pertanyaannya sukses membuatku tersentak dan membatu saat itu juga, apa ia sudah tahu semuanya?

“eh…”

“kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau selama ini kau di bully oleh teman-temanmu itu?” ucapnya seraya membersihkan lukaku.

“oppa tahu dari mana?”

“wajahmu lebam seperti itu siapapun pasti akan tahu kalau kau habis di pukuli” jawabnya sambil membereskan peralatan p3k setelah ia memberikan sedikit obat luka pada bibirku.

Akhirnya dia mengetahui semuanya aku memang bodoh dan tidak pandai berbohong di depannya.

“beritahu aku siapa mereka agar aku bisa memberikan mereka pelajaran!” ucapnya dengan menatapku tajam.

“tidak perlu oppa! Selagi aku masih baik-baik saja oppa tidak usah khwatir”

“mana bisa aku tidak khawatir kalau dongsaengku di perlakukan seperti ini”

Aku terkesiap mendengar ucapannya yang entah kenapa medengar bahwa aku adalah adiknya membuat hatiku sakit.

“oppa tenang saja! Aku bisa menjaga diriku sendiri, kok” kataku dengan terus meyakinkannya untuk tidak khawatir padaku.

“kalau oppa menghajar mereka sama saja oppa sudah membawaku ke dalam masalah yang besar dan bisa saja kan mereka akan melakukan sesuatu yang lebih buruk padaku untuk membalas perlakuan oppa pada mereka” kataku dengan meyakinkannya. Kulihat ia sedikit berfikir dan aku harap ia bisa mengerti maksudku.

“baiklah kalau begitu…tapi ada satu syarat!”

“syarat apa?”

“setiap hari aku akan mengantarmu ke sekolah dan menjemputmu saat pulang sekolah” katanya sambil tersenyum manis padaku dan mengacak pelan rambutku.

DEG

Dan lagi-lagi perasaan ini muncul saat aku melihat senyumnya yang begitu manis padaku dan aku tidak tahu kenapa perasaan ini bisa tumbuh begitu saja terhadap oppa ku sendiri.

“baiklah kalau itu maumu oppa” balasku dengan menganggukkan kepala dan tersenyum padanya.

~Author POV~

Pagi itu Ju Na sudah terlihat lebih baik dari kemarin dan wajahnya tidak lagi terlihat lebam walaupun luka sobek pada sudut bibirnya masih terlihat akibat tamparan yang di dapatkannya kemarin. Setelah memastikan seragam sekolahnya sudah rapi dan penampilannya sudah sempurna di depan cermin seulas senyum terpancar di bibirnya kala hari ini Sehun akan mengantarnya ke sekolah karena selama ini Ju Na hanya naik bis untuk berangkat sekolah karena Sehun sibuk dengan urusan kuliahnya dan harus berangkat lebih pagi darinya dan juga arah kampus dengan sekolahnya berbeda. Dia tampak begitu senang pagi ini.

“kau sudah siap?” tiba-tiba Sehun muncul dari balik pintu yang kala itu tidak tertutup. Mendengar suara oppanya itu Ju Na menoleh ke arah Sehun yang sudah berada di sampingnya.

“ehmm…aku sudah siap oppa” katanya mantap.

“kau terlihat cantik pagi ini” ucap Sehun seraya menepuk pelan puncak kepala dongsaengnya itu.

“eh…go..gomawo” ucapnya gugup dan sedikit salah tingkah.

“kajja” ucap Sehun sambil menarik tangan Ju Na lembut ke luar kamar, sementara Ju Na memegangi dadanya yang kala itu jantungnya berdegup kencang seperti apa yang ia rasakan kemarin.

~***~

Di dalam perjalanan menuju sekolah suasana di dalam mobil begitu hening tak ada satupun di antara keduanya untuk membuka sebuah percakapan mereka berdua hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ju Na yang tak suka dengan keadaan yang seperti ini merasa bosan karena ia adalah tipe gadis yang ceria dan tidak bisa diam.

“oppa…”

“hemm” guman Sehun dengan melirik kea rah Ju Na sekilas dan setelah itu kembali focus ke depan karena ia sedang menyetir mobil.

“mianhe karena sudah merepotkamu dan gomawo sudah mau mengantarku ke sekolah”

“kau ini bicara apa? Sudah seharusnya aku sebagai kakak menjaga dan perhatian pada adiknya bukan?”

Mendengar ucapan Sehun senyum yang tadinya menghiasi wajahnya kini menghilang tanpa berbekas. Adik? Kenapa kata itu sangat menyakitkan baginya? Kalau saja ia tidak bisa menahan emosinya mungkin saja kali ini air matanya keluar di depan Sehun dan itu tidak akan ia biarkan terjadi.

Sehun dan Ju Na memang bukanlah saudara kandung karena orang tua Sehun mengadopsi Ju Na di panti asuhan saat ia berumur lima tahun karena keluarga keluarha Oh sangat ingin mempunyai anak perempuan terutama nyonya Oh ia begitu menginginkan anak perempuan. Merka sangat menyayangi Ju Na layaknya anak kandung mereka sendiri tidak terkecuali Sehun ia sangat menyayangi Ju Na sebagai yeodongsaeng satu-satunya. Sehun selalu menjaga dan melindungi adiknya itu dari orang-orang yang mengganggu Ju Na, apapun akan ia lakukan demi adiknya itu. Tidak jarang orang-orang yang mengganggu Ju Na babak belur akibat pukulan dari Sehun. Tetapi kali ini Ju Na tidak ingin memberitahukannya tentang pembullyan yang ia dapatkan karena ia tidak ingin Sehun ataupun dirinya mendapat masalah yang besar.

Karena setiap perlakuan dan perhatian dari kakaknya itu Ju Na selalu merasa nyaman berada di dekatnya, bahkan semenjak ia duduk di bangku SMA dan sudah beranjak dewasa perasaan aneh muncul pada dirinya saat berada di dekat Sehun. Ya, dia begitu menyayangi kakanya itu bahkan bisa di bilang sekarang ia…mencintai seorang Oh Sehun sebagai namja…bukan sebagai seorang kakak, tidak jarang ia sangat menyesal di angkat sebagai anak dari keluarga Oh, karena perasaan itu yang membuatnya menyesal.

“nah, sudah sampai” ucap Sehun saat mobilnya sudah berada tepat di depan gerbang sekolah Ju Na.

“eh…gomawo…aku masuk dulu oppa” balas Ju Na dan bersiap membuka pintu mobil.

“belajar yang rajin dan jaga dirimu” ujar Sehun seraya mengacak pelan rambut Ju Na. Gadis itu hanya tersenyum membalas ucapan Sehun dan setelah itu Ju Na pun keluar dari mobil dan masuk kedalam sekolah.

Aaakkhhh

Ju Na merintih kesakitan memegangi perutnya yang kala itu terasa amat sakit, dia tolehkannya kepalanya ke belakang memastikan Sehun sudah pergi atau tidak, dan untungnya kakaknya itu sudah pergi kalau tidak ia pasti akan membuat Sehun khawatir lagi dengan keadaannya sekarang.

“kenapa rasa sakit ini muncul lagi?” gumamnya pelan dengan tangannya tetap memegangi perutnya.

~at class room~

Braaakkk

Seseorang menggebrak meja Ju Na dengan begitu keras membuatnya mau tidak mau menghentikan aktifitas menulisnya karena saat itu ia sedang menyalin tugas yang di berikan oleh guru Kang sebelum jam pelajaran selesai.

“apa kau sudah memikirkan ucapanku yang kemarin?”

Di genggamnya erat bolpoint yang ia pegang guna menahan emosinya terhadap gadis abal-abal di hadapannya kini. Dengan tersenyum sinis Ju Na mengangkat kepalanya menatap gadis yang bernama Sera itu.

“kau pikir semudah itu menuruti kemauanmu? Kau tidak ingat keputusan juri waktu itu tidak bisa di ganggu gugat lagi? Walaupun kau menggunakan segala cara untuk membuatku mundur itu tidak akan pernah bisa?” ucapnya datar. Mendengat perkataan Ju Na, gadis itu terlihat sangat emosi dan bersiap-siap untuk menampar Ju Na tetapi niatnya terhenti saat seorang memanggil Ju Na.

“awas kau!” ancam Sera karena kesal niatnya tak terlaksana.

~***~

“baik pak, aku akan berusaha dengan maksimal untuk bisa memenangkan olimpiade nanti”

“Baiklah aku mengandalkanmu Kim Ju Na”

Setelah Ju Na menghadap kepala sekolah karena membicarakan tentang oilimpiade yang akan di adakan minggu depan, kini Ju Na melangkah keluar dari ruangan kepala sekolah.

Saat ia melewati koridor sekolah tidak sengaja matanya melihat sosok gadis yang tadi menggebrak mejanya dan mengancam dirinya berjalan sendirian di bawah tangga yang kala itu gadis itu akan menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Matanya seketika melebar saat di lihatnya sebuah pot besar yang berada di atas tangga itu oleng karena seseorang tidak sengaja menyenggolnya dan sebentar lagi pot itu akan jatuh dan menimpa gadis itu.

“Seraaaaa awaaaas…”

Mendengar namanya di panggil Sera menoleh ke arah sumber suara dan tiba-tiba tubuhnya terpelanting tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Braaaaakkkk

Pot itupun jatuh dan untungnya gadis itu tidak apa-apa karena Ju Na mendorongnya agar gadis itu terkena oleh pot itu.

“gwenchana” tanya Ju Na pada Sera yang kala itu terlihat schok dan sekaligus terkejut dengan kejadian itu kalau saja Ju Na tidak mendorongnya mungkin saja sekarang sekarang ia di larikan kerumah sakit.

“Sera…” panggil Ju Na dengan menggoncang-goncangkan tubuh Sera pelan.

“eh…” kini Sera telah tersadar dari lamunannya dan dengan cepat menoleh kea rah Ju Na “g..ge..gwenchana” ucapnya pelan dan setelah itu ia bergegas berdiri merapikan seragamnya dan pergi meninggalkan Ju Na mengucapkan terima kasih.

Aakhhhh

Lagi-lagi perutnya terasa sakit yang kali ini sakitnya begitu menyakitkan di peganginya perutnya dengan kedua tangannya sambil terus berusaha untuk berjalan. Tanpa di sadari dari kejauhan sesorang memperhatikannya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.

~***~

Jam pelajaranpun telah usai para siswa bersiap-siap meninggalkan kelas dan bersiap pulang tak terkecuali Ju Na yang dengan cepat membereskan peralatan sekolahnya karena hari ini Sehun akan menjemputnya ke sekolah.

Saat dirinya sudah sampai di gerbang sekolah tampak mobil sport berwarna hitam yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik Sehun kakaknya, seulas senyum terpancar di bibirnya dan segera berlari ke arah mobil yang terpakir tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

“oppa…” ucapnya saat sudah berada di dalam mobil.

“kelihatannya hari ini kau begitu bahagia oppa? Ada sesuatu yang membuatnya terlihat senang hari ini?” tanya Ju Na.

“ehmm…hari ini aku sangat bahagia dan nanti aku akan menceritakannya padamu” ucap Sehun dengan senyum yang begitu lembut dan benar saja dari raut wajahnya ia tampak sangat bahagia hari ini. “karena hari ini suasana hatiku lagi baik aku akan mengajakmu jalan-jalan, bagaimana apa kau mau?”

“woaaaaa…tentu saja aku mau oppa” balas Ju Na antusias.

“baiklah, kau mau kemana?”

“bagaimana kalau ke lotte morld saja oppa!, karena sudah lama aku tidak kesana” kata Ju Na dan setelah berfikir akhirnya Sehun menyetujui usul dongsaengnya itu.

“baiklah kita akan ke sana”

~at Lotte World~

Sesampainya di lotte world Ju Na tampak sangat senang dan bahagia melihat dongsaengnya yang terlihat bahagia Sehun tersenyum karena ia sangat senang jika adiknya itu senang.

“kita main itu saja oppa” kata Ju Na menunjuk wahana roler coster. Sehun terlihat ragu menaiku wahana yang satu itu karena ia takut akan ketinggian.

“ayolah oppa” rengek Ju Na sambil menarik-narik lengan kakaknya, tidak ingin mengecewakan adiknya itu Sehunpun mengikuti kemauan Ju Na.

Hari itu mereka berdua terlihat sangat bahagia tidak ada beban di wajah keduanya, semua wahana yang ada disana mereka coba satu persatu tidak ada rasa lelah di antara keduanya karena mereka dangat menikmati setiap permainan yang ada disana. Terutama Ju Na ia begitu sangat bahagia bisa bersama dengan Sehun hari ini.

Hari semakin sore dan kini mereka sedang menikmati makanan yang terdapat di arena lotte world tersebut.

“apa kau senang?”

“ehmm…hari ini aku sangat senang oppa”

Dengan lahap mereka mengahabiskan makanan yang mereka pesan karena mereka sangat lapar hari itu, setelah keduanya selesai makan mereka memutuskan untuk pulang karena hari itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“ceritakan padaku apa yang sudah membuatmu terlihat bahagia hari ini” tanya Ju Na saat sudah berada di dalam mobil.

“kau tahu Yoojun?”

Terlihat Ju Na sedang berfikir atas pertanyaan Sehun yang di tujukan padanya dan setelah ia ingat siapa orang yang di maksud oleh kakaknya itu ia pun dengan cepat menoleh menatap Sehun.

“tetangga kita yang dulu kan? Memang apa hubungannya dengannya?”

“dia satu kelas denganku di kampus”

“lalu?”

“sejak dulu aku sudah menyukainya dan tadi pagi aku sudah menyatakan cintaku padanya, dank au tahu ternyata dia juga menyukaiku dan menerimaku menjadi namjachingunya”

“b…be…benarkah?”

“tentu saja Ju Na-ya”

Hancur sudah hatinya kali ini mana kala mengetahui orang yang di cintainya menyukai orang lain dan kini ia telah menjadi milik orang lain dan itu bukan dirinya, ditahannya air matanya agar tidak keluar saat itu tangannya dengan kuat mencengkram ujung roknya menahan emosi di dalam hatinya saat ini.

“se…selamat oppa” Ju Na berusaha mengeluarkan kata itu dari bibirnya dan berusaha tersenyum meski hatinya terasa sangat sakit kali ini. Di lihatnya senyuman dari Sehun yang begitu lembut padanya mungkin senyuman tidak lagi hanya untuknya, tetapi milik yeojachingunya.

~at Home~

Di luapkannya rasa sakit di hatinya dengan menangis tanpa henti saat ia sudah sampai di rumah dan ia pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamarnya saat ini sekedar menenangkan hatinya.

“kenapa harus seperti ini?” guamamnya pelan dengan suara yang bergetar.

“kenapa kau memberikan perasaan ini padaku Tuhan? Aku mencintainya dan sekarang dia sudah menjadi milik orang lain dan itu bukan diriku” kini air matanya mengucur deras membasahi pipi putih mulusnya. Di peluknya kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di lipatan kedua tangannya di samping tempat tidurnya. Gadis itu masih mengenakan baju seragamnya semenjak pulang dari bermain dari lotte world tadi sore.

Aaaakkhh

Perutnya kembali terasa sakit malam itu tetapi kali ini terasa sangat amat sakit tetapi rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya kali ini.

~***~

Seperti biasa setiap pagi Sehun selalu mengantarnya berangkat ke sekolah dan menjemput Ju Na pulang, tetapi sudah berberapa hari belakangan ini Ju Na terlihat sangat pucat dan tidak terlihat bersemangat seperti biasanya. Sudah beberapa kali Sehun menanyakan keadaannya yang semakin hari ia semakin pucat tetapi gadis itu selalu menjawab bahwa ia tidak apa-apa.

Semakin lama rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi dan pagi ini ia memutuskan untuk membolos dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanya.

“kau terkena penyakit gagal ginjal yang sudah stadium akhir” kata dokter itu setelah melihat hasil diagnosa dari suster yang memeriksa keadaan perut Ju Na. Gadis itu terkesiap mengetahui bahwa ia terkena penyakit yang bisa di bilang mematikan itu.

“mulai besok kau harus rutin datang kemari untuk mengecek keadaanmu dan setiap tiga kali dalam seminggu kau harus cuci darah, dan kami akan mengusahan mencarikan pendonor ginjal untukmu”

~***~

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan gontai menyusuri kota seoul sore itu begitu banyak yang di pikirkannya, lengkap sudah penderitaan yang di alaminya saat ini bukan hanya sakit di hatinya saja tetap penyakit lain kini menghinggapi tubuhnya. Tatapannya begitu kosong, pandangannya kabur karena bendungan air matanya.

Semakin hari semakin wajah Ju Na semakin pucat tetapi di depan Sehun ia berusaha untuk terlihat sehat dan tak terjadi apa-apa.

Sudah dua hari ini Sehun tidak bisa mengantar Ju Na berangkat ke sekolah karena ia ada urusan di kampusnya, dan itu ia bisa memakluminya kemarin Sehun terlambat untuk menjemputnya karena alasan ada rapat ekstrakulikuler di kampusnya dan itu bisa ia maklumi juga. Tetapi kali ini Sehun sudah berjanji untuk menjemputnya tetapi sudah empat jam ia menunggu kedatangan kakaknya itu dan sampi sekarang belum juga datang.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 enam sore dan belum juga tampak mobil sport milik Sehun, emosi di dalam dirinya sudah semakin memuncak dengan kesal ia menghentakkan kakinya ke tanah sambil terus menghubungi Sehun tetapi sudah puluhan kali panggilannya itu tak ada jawaban bahkan sudah berapa kali ia mengirimkan pesan untuk sehun bahkan tak ada satupun sms yang di balas oleh Sehun.

“oppa kau dimana? Kenapa belum juga datang?” gumamnya kesal. Dan akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk berjalan kaki pulang, dengan keadaan yang begitu tidak memungkinkan ia memaksa dirinya untuk terus berjalan menyusuri jalan kota Seoul sore itu.

Saat ia melewati sebuah taman tidak sengaja ia melihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya, ya dia adalah Oh Sehun kakaknya sedang memeluk seorang yeoja yang merupakan kekasihnya. Ternyata Sehun telah mengingkari janjinya dan membuat dirinya harus menunggu kehadiran dirinya seperti orang bodoh. Kini matanya memanas dan air matanya sukses mengucur keluar.

“kau jahat oppa”

~at Home~

“Ju Na-ya…” panggil seseorang sambil mengetok pintu kamarnya, orang itu adalah Sehun lelaki itu tampak khawatir karena sudah seharian ini Ju Na tidak keluar dari kamarnya. “aku mohon buka pintunya Ju Na!”

Gadis itu tidak ingin bertemu dengan kakaknya karena ia benar-benar sakit hati pada Sehun. “aku mohon buka pintunya”. Mendengar Sehun memohon agat ia membukakan pintu dengan terpaksa gadis itu beranjak dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu.

“ada apa?” tanyanya ketus.

“kau menangis?” tanya Sehun karena melihat mata adiknya itu sembab.

“apa pedulimu?” bentak Ju Na dan itu membuat Sehun mengerutkan alisnya karena melihat adiknya membentaknya seperti itu karena selama ini ia tidak pernah melihat adiknya yang seperti ini.

“apa maksudmu?”

“bukannya aku sudah tak penting lagi bagimu karena kau sekarang sudah memiliki yeoja chingu?” ucap Ju Na yang membuat Sehun semakin tak mengerti “kau membiarkan aku menunggumu seperti orang bodoh hanya untuk kau menjemputku, kau tahu sudah lima jam aku menunggumu oppa tetapi apa kau tak juga datang menjemputku, kau tega membiarkan aku berjalan sendiri dari sekolah ke rumah dan yang ternyata kau…bersama dengan yeojamu dan bermesraan dengannya…KAU BENAR-BENAR JAHAT OPPA SEMENJAK KEHADIRAN YEOJA ITU KAU SUDAH JARANG MEMPERHATIKANKU KARENA PERHATIANMU HANYA UNTUKNYA, AKU SANGAT MEMBENCINYA”

PLAAAK

Reflek Sehun menampar Ju Na dan langsung membuat gadis itu memegangi pipi kirinya ia benar-benar tak percaya atas perlakuan kakaknya itu.

“apa maksudmu berkata seperti itu?”

“AKU BERKATA SEPERTI ITU KARENA AKU MENCINTAIMU OPPA” akhirnya kata itu muncul begitu saja dari mulutnya dan sementara itu Sehun tidak mempercayai ucapan adiknya itu kalau Ju Na ternyata mencintanya. “SELAMA INI AKU BERUSAHA MEMBUANG PERASAAN INI PADAMU TETAPI SEMAKIN BESAR AKU MELAKUKANNYA SEMAKIN BESAR PULA RASA CINTA INI AKU RASAKAN UNTUKMU”

“setiap kau membicarakan yeoja itu hatiku selalu merasa sakit bisa di bilang aku cemburu padanya, aku sangat menyesali diriku yang seperti ini karena telah mencintaimu”

Sehun semakin tak percaya dengan semua ini dongsaeng yang begitu ia sayangi ternyata selama ini mencintainya. Sejurus kemudian lelaki itu memutuskan untuk pergi keluar dari kamar Ju Na membiarkan gadis itu yang keadaannya semakin terpuruk ia tahu semuanya akan seperti ini. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan akhirnya ia terduduk lemas di lantai kamarnya dengan memegangi dadanya yang terasa sakit.

~***~

Setelah kejadian malam itu tak ada di antara keduanya untuk sekedar bertegur sapa, yang mulanya setiap pagi Sehun mengantarnya berangkat sekolah kini tidak lagi karena pagi-pagi sekali ia sudah berngkat ke kampusnya terlebih dulu. Ju Na tahu semua ini karena kesalahannya karena telah mengungkapkan perasaannya pada Sehun.

Bukan hanya Sehun tak pernah mengantarnya sekarang menjemput Ju Na pun tak pernah lagi, lelaki itu seakan-akan menghindar dari Ju Na, sudah beberapa kali ia meminta maaf padanya tetapi lelaki itu sama sekali tak menghiraukan permintaan maaf darinya. Hancur sudah semuanya hanya karena perasaan cintanya pada seorang Oh Sehun yang notabene merupakan kakaknya. Semakin hari Ju Na semakin tidak bersemangat.

Dengan langkah gontai Ju Na menyusuri koridor setelah ia keluar dari ruangan kepala sekolah tatapanny begitu kosong.

Keadaanmu semakin parah dan penyakitmu juga semakin lama semakin kritis kalau dalam waktu dekat belum juga kau mendapatkan donor ginjal, kami terpaksa harus mengangkat ginjalmu tetapi itu bisa membahayakan keselamatanmu

Kata-kata itu terus terngiang di otaknya penyakitnya kini semakin parah dan mungkin umurnya tak akan lama lagi, tiba-tiba perutnya kembali sakit dan pandangan matanya kabur kalau saja tak ada orang yang menahan tubuhnya mungkin ia akan terjatuh.

“Ju Na kau tidak apa-apa?” tanya seseorang yang telah membantunya berdiri.

“Sera”ucapnya sebelum pandangan matanya gelap dan akhirnya ia pingsan, seketika Sera terlihat panic dan menepuk-nepuk pipi Ju Na agar sadar tetapi nihil gadis itu tak kunjung sadar.

~~~

“kau sudah sadar?” tanya Sera saat mengetahui Ju Na telah sadar. “aku dimana?” tanya Ju Na mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. “sekarang kau di UKS tadi tiba-tiba kau pingsan”. Jelas Sera menjelaskan kejadian tadi siang. “gomawo sudah menolongku Sera-ya” ucap Ju Na dengan tersenyum, wajah Ju Na semakin pucat. “wajahmu sangat pucat apa kau sakit?” tanya Sera terlihat khawatir. “tidak…aku hanya kelelahan saja”. Jawab Ju Na berbohong sedangkan Sera menganggukkan kepalanya mengerti. “Sera…kenapa kau mau menolongku? Padahal kau begitu membenciku” tanya Ju Na “eh…selama ini mungkin aku sangat egois dan sangat jahat padamu, aku sadar selama ini aku sangat bersalah karena telah membullymu karena rasa iriku terhadapmu” kata Seran yang terlihat menyesali perbuatan yang telah ia lakukan pada Ju Na. “dan aku berterima kasih padamu karena telah menolongku waktu itu kalau saja tidak ada kau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku waktu itu”.

Ju Na tersenyum senang karena akhirnya Sera minta maaf atas perbuatannya selama ini bukan hanya itu saja ia senang karena ia tidak akan di bully lagi oleh Sera.

Ju Na terlihat berusaha menghubungi Sehun saat ia sudah terlihat lebih baik dan keluar dari ruang UKS dan kini jam pelajaran telah usai yang berarti semua siswa sudah bersiap untuk pulang. “opaa tolong angkat teleponnya!” gumamnya saat berusaha menghubungi Sehun tetapi nihil tak ada jawaban dari Sehun. “apa segitu bencinya kau padaku?”

Dengan terpaksa ia harus naik bis untuk pulang kerumah tetapi saat ia akan menyebrang tiba-tiba saja pertunya kembali sakit dan kali ini ia sudah tak tahan lagi. “oppa aku membutuhkanmu” ucapnya sebelum semuanya gelap dan Ju Na pun tak sadarkan diri.

~***~

Untuk kesekian kalinya ponsel milik lelaki itupun berbunyi dan dengan terpaksa ia harus menghentikan aktifitas membacanya dan mengangkat panggilan tersebut di lihatnya hanya no saja yang tertera di ponselnya.

“yoboseyo”

“apa benar ini no dari Oh Sehun?”

“iya benar…maaf ini dengan siapa ya?”

“aku Ah Sera teman sekolahnya Ju Na dan sekarang ia sedang berada di rumah sakit”

“apa? Ju Na di rumah sakit? Baiklah aku akan segera kesana” setelah teleponnya terputus dengan cepat Sehun bergegas menuju rumah sakit tempat Ju Na di rawat.

~at Hospital~

“giamana keadaannya dok?” tanya Sehun cemas. “ keadaannya semakin kritis penyakit ginjalnya juga semakin parah” jawab dokter itu dengan raut wajah yang serius. “penyakit ginjal? Selama ini Ju Na sakit?” gumamnya pelan. “ benar, selama ini dia mengidap gagal ginjal dan aku sudah memberitahunya untuk mencuci darah setiap tiga dalam seminggu tetapi sama sekali ia tidak melakukan apa yang aku perintahkan” jelas dokter itu. Sementara itu Sehun semakin shock mendengar penjelasan dari dokter tersebut.

Kini Sehun telah berada di ruangan tempat Ju Na di rawat dan duduk di samping ranjang tempat Ju Na berbaring lemas di genggamnya erat tangan adiknya itu dan mencium kening gadis itu. Sehun menangis melihat keadaan adiknya itu ia benar-benar tidak menyangka kalau selama ini Ju Na mengidap penyakit itu.

“maafkan aku” ucapnya menyesali semua yang telah terjadi dan ia telah menyesal selama ini ia tak acuh terhadap adiknya itu. Tanpa di sadari keluar air mata dari sudur mata Ju Na yang kala itu mendengar suara Sehun walapun matanya sedang tertutup tetapi ia bisa merasakan sentuhan hangat dari Sehun orang yang begitu di cintainya.

Tiba-tiba gadis itu merasakan sesak pada dadanya dan seketika itu pula Sehun terkejut melihat adiknya tersengal-sengal karena nafasnya begitu sesak. Dengan cepat Sehun memanggil dokter untuk menolong adiknya itu.

~three day latter~

Maafkan aku oppa! Karena kesalahanku kau begitu membenciku, aku tidak kuat harus melihatmu seperti itu, melihatmu mendiamiku dan membencimu mebuat hatiku sangat sakit. Aku sadar seharusnya aku tak boleh mencintaimu karena kau adalah kakakku walaupun kau bukan kakak kandungku. Kau tahu selama ini aku berusaha untuk membuang perasaan ini jauh-jauh tetapi semakin aku berusaha melakukannya semakin besar pula perasaan ini untukmu. Oh ya…aku minta maaf karena telah membentakmu waktu itu dan itu karena aku kesal padamu, karena kau telah mengingkari janjimu untuk menjemputku. Oppa…gomawo atas semua perhatian dan kasih sayang padamu untukku terima kasih selama ini telah menjagaku. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu kesal karean perbuatanku selama ini. Dan maafkan aku karena telah mencintaimu oppa! Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi, maaf tidak memberitahukan semua ini padamu karena aku tak ingin kau khawatir dengan keadaanku yang seperti ini. Senang bisa menjadi bagian dari hidup mu oppa^^ jagalah Yoojun unnie jangan sekali-kali kau menyakitinya kalau tidak aku akan marah padamu^^ aku akan terus mencintaimu.

Oppa SARANGHAE

From : Kim Ju Na

Setelah membaca surat itu Sehun tak bisa lagi membendung air matanya dan kali ini ia benar-benar menyesali apa yang telah terjadi, badannya terasa lemas dan seketika ia ambruk ke lantai kamar milik Ju Na.

“maafkan aku Ju Na…aku bukan oppa yang baik untukmu…aku begitu bodoh tidak menyadari semuanya dari awal”

Aku juga mencintaimu

~at School~

“Ju Na sudah mengundurkan diri dari empat hari yang lalu dari olimpiade itu dan ia ingin kau yang menggantikannya untuk mengikuti olimpiade itu” kata guru kang. “dan ini ada surat untukmu dari Ju Na”

“terima kasih songsaenim”

Dengan hati-hati ia melangkah keluar dari ruangan guru Kang ada perasaan yang berkecambuk di hatinya saat ini, antara perasaan senang karena imipiannya untuk mengikuti olimpiade itu akhirnya terwujud tetapi di sisi lain ia merasa kehilangan.

Haaiii Seraaa^^

Sekarang impianmu akan terwujud untuk mengikuti olimpiade sains itu bukan? Kekekeke~

Sekarang kau harus berusaha untuk memenangkan kompetisi itu demi mengaharumkan nama sekolah dan juga demi aku yang sudah memberikanmu tanggung jawab yang begitu besar untuk memenangkan olimpiade itu.

Kau harus berusaha ya!

Hwaitiiiing^^

Setelah membaca surat itu Sera menutup mulutnya dengan tangannya menahan suara tangis agar orang lain tak mendengarnya, betapa rasa kehilangan yang ia rasakan sekarang. Sahabat yang baru saja ia temukan kini telah pergi untuk selamanya.

“gomawo Ju Na aku tidak akan mengecewakanmu” ucapnya di sela-sela isak tangisnya.

Kau sahabat terbaikku

 

FIN

Akhirnya selesai juga ff onshoot ini aku buat,,,fiuuuuh,,,maaf ye ff rada aneh n gaje bangggeeeeeeet dan maaf juga kalau banyak typo-nya…hehehehe

Mohon di RCL yaaaaa^^

GOMAWO 😀

GOMAWO

Advertisements

返信を残す~ Arigato^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s